Sungguh
aku tak pernah membayangkan sebelumnya untuk memergoki orang bercinta. Apalagi
kalau orang itu adalah kakakku sendiri. Namun demikianlah yang terjadi. Tanpa
sengaja aku melihat permainan ranjang antara kakakku dengan seorang mahasiswa
yang magang di rumahku. Peristiwa yang tak terduga itu membuatku mula-mula
shock namun secara tak terduga justru akhirnya aku menikmatinya sampai akhir.
Sekilas tentang diriku, aku adalah cowok berumur 19 tahun sementara kakakku 2 tahun lebih tua dariku. Orangnya cukup cantik serta bodinya cukup oke. Bra-nya berukuran 34B. Kulitnya putih mulus. Ia termasuk orang yang cukup cuek dalam menonjolkan ke-sexy-an tubuhnya apalagi kalau di rumah. Sejak awal aku memang mempunyai pikiran yang agak "miring" kepadanya dikarenakan dari tingkah lakunya. Namun ini hanya terpendam di dalam pikiranku saja. Tak pernah aku mempunyai niat untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh kepadanya. Kuingat pertama kali ia memakai bra saat kelas 2 SMP. Sebelum itu pernah beberapa kali aku melihatnya telanjang, terakhir sampai ia kelas 1 SMP aku pernah melihatnya telanjang dada. Dadanya sudah agak menonjol namun saat itu aku masih tak punya pikiran apa-apa. Setelah ia memakai bra, justru aku menjadi penasaran ingin melihat payudaranya. Apalagi dadanya makin lama makin membesar sementara sejak ia memakai bra, ia tidak pernah telanjang di depanku lagi. Saking penasarannya aku suka melihat dan memegang-megang bra-nya (tentunya saat tidak dikenakan). Dari situ aku tahu ukurannya adalah 34B. Sejak itu aku ingin sekali melihat seperti apa payudaranya. Namun aku tidak mendapat kesempatan itu sampai suatu ketika saat ia kelas 3 SMU.
Sekilas tentang diriku, aku adalah cowok berumur 19 tahun sementara kakakku 2 tahun lebih tua dariku. Orangnya cukup cantik serta bodinya cukup oke. Bra-nya berukuran 34B. Kulitnya putih mulus. Ia termasuk orang yang cukup cuek dalam menonjolkan ke-sexy-an tubuhnya apalagi kalau di rumah. Sejak awal aku memang mempunyai pikiran yang agak "miring" kepadanya dikarenakan dari tingkah lakunya. Namun ini hanya terpendam di dalam pikiranku saja. Tak pernah aku mempunyai niat untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh kepadanya. Kuingat pertama kali ia memakai bra saat kelas 2 SMP. Sebelum itu pernah beberapa kali aku melihatnya telanjang, terakhir sampai ia kelas 1 SMP aku pernah melihatnya telanjang dada. Dadanya sudah agak menonjol namun saat itu aku masih tak punya pikiran apa-apa. Setelah ia memakai bra, justru aku menjadi penasaran ingin melihat payudaranya. Apalagi dadanya makin lama makin membesar sementara sejak ia memakai bra, ia tidak pernah telanjang di depanku lagi. Saking penasarannya aku suka melihat dan memegang-megang bra-nya (tentunya saat tidak dikenakan). Dari situ aku tahu ukurannya adalah 34B. Sejak itu aku ingin sekali melihat seperti apa payudaranya. Namun aku tidak mendapat kesempatan itu sampai suatu ketika saat ia kelas 3 SMU.
Malam
menjelang tidur, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Saat aku masuk
ke kamarnya, aku agak kaget menyaksikan dadanya kelihatan bergerak-gerak cukup
bebas. Kulihat ada BH yang tergeletak di ranjang. Jangan-jangan ia tidak
memakai BH di balik bajunya, pikirku. Aku menjadi yakin saat kulihat ada dua
tonjolan di dadanya yang menembus bajunya. Bajunya tidak terlalu tipis namun
juga tidak cukup tebal untuk menyembunyikan kedua putingnya yang bergerak-gerak
dengan bebasnya. Aku menjadi agak salah tingkah. Tanpa sadar kurasakan batang
kemaluanku menjadi tegang menyaksikan hal itu. Sementara ia dengan cueknya
berbicara denganku seolah-olah tidak ada apa-apa, membuatku beberapa kali
mencuri-curi pandang ke arah dadanya. Saat ia membungkuk di depanku, tentunya
tak kusia-siakan kesempatan untuk melihat dadanya yang indah dan mulus. Hanya
sayangnya tak sampai kelihatan putingnya.
Kemudian
ia mengatakan ingin mengambil tasnya di luar, buru-buru kutawarkan untuk
mengambilkannya. Aku agak was-was ia keluar saat itu karena Amat, pembantuku
sedang nonton TV di ruang tamu saat aku masuk ke sini. Jangan-jangan ia masih
di sana. Kalau sampai Amat melihat kakakku seperti itu kan bisa berabe. Apalagi
kalau ia sampai tidak bisa mengendalikan nafsunya, bisa fatal akibatnya.
Malam
itu aku mimpi basah. Dalam mimpiku, kakakku mengambil tasnya. Sementara Amat
menjadi bernafsu saat melihat payudara kakakku (dalam mimpiku, kakakku
mengenakan baju transparan). Ia menatap terus memandangi kakakku yang sedang
telanjang dengan penuh nafsu. Kemudian ia mendekati kakakku dan langsung
menciumi bibirnya. Kakakku membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kedua tangan
Amat meraih payudara kakakku dan meremas-remasnya. Sampai disana akhirnya
membuatku jadi "basah". Dan itu adalah mimpi basahku yang terhebat,
spermaku yang keluar demikian banyaknya.
Paginya
aku jadi bingung. Peristiwa yang tidak kuinginkan terjadi, ternyata secara
bawah sadar membuatku jadi bergairah. Sejak itu, beberapa kali aku mencoba
membayangkan kakakku bercinta dengan cowok (termasuk Amat) saat onani, terutama
saat aku kehilangan ide. Ternyata hal itu membuat onaniku jauh lebih nikmat.
Sampai akhirnya aku selalu membayangkan hal itu saat onani. Tentunya aku tidak
berani menceritakan hal ini kepada siapapun. Juga aku sungguh tidak
mengharapkan bayanganku itu betul-betul terjadi karena aku yakin kakakku masih
perawan. Walaupun ia termasuk cukup berani dalam berpakaian namun ia bukan tipe
cewek yang gampangan. Memang ia sudah punya cowok tapi aku percaya ia tidak
pernah melakukan hal-hal yang di luar batas.
Kalaupun
cowoknya datang ia selalu menemuinya di ruang tamu dan kakakku selalu
berpakaian sopan. Seringkali malah kami bertiga berbincang-bincang bersama.
Terlepas dari itu aku makin sering "membayangkan" kakakku. Apalagi
saat pergi bersamanya, selalu banyak cowok yang menatap ke arahnya. Dari
tatapannya dapat kubayangkan kalau mereka tergiur oleh kemolekan kakakku.
Selain wajahnya yang cukup cantik dan bodinya yang aduhai, ia selalu mengenakan
pakaian yang makin menunjukkan daya tariknya. Sementara kalau di rumah pakaian
yang dikenakannya membuatnya jadi "hot".
Ia suka sekali memakai kaus kutang tanpa lengan. Membuatnya makin tampak seksi
saja, apalagi kalau sedang membungkuk. Kalau tidak gitu, ia memakai daster yang
tipis. Saking tipisnya sampai kelihatan BH dan celana dalamnya. Sepertinya ia
tidak peduli dan tidak merasa kalau aku sering meliriknya. Bahkan Amat pun
kudapati seringkali mencuri-curi pandang menatap bagian dada atau pahanya yang
putih mulus. Kadang aku ingin mengingatkan kakakku namun aku tidak tahu harus
bagaimana bicaranya. Aku takut menyinggung perasaannya.
Suatu hari pernah kupergoki Amat melihat celana dalam kakakku. Saat itu kakakku sedang duduk membaca majalah. Sementara kakinya agak terbuka dan roknya agak pendek. Saat itu Amat sedang mengepel lantai kira-kira 3 meter di depannya. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuperhatikan tangannya berputar-putar mengepel lantai namun matanya memandang langsung ke arah celana dalam kakakku. Sementara posisiku di belakang Amat agak tersembunyi oleh lemari sehingga ia tidak tahu kalau aku ada di sana. Aku sendiri juga bisa melihat celana dalamnya. Membuatku bergairah apalagi saat melihat Amat menatap kakakku juga. Pandangan kakakku terhalang majalah yang ada di depannya sehingga ia tidak mengetahui kalau ada 2 orang cowok yang mengambil kesempatan dalam kesempitan menonton celana dalam dan kedua pahanya yang putih mulus itu. Tapi tak terjadi hal yang lebih jauh dari itu. Beberapa saat kemudian kakakku mengubah posisi duduknya dan Amat melanjutkan pekerjaannya.
Suatu hari pernah kupergoki Amat melihat celana dalam kakakku. Saat itu kakakku sedang duduk membaca majalah. Sementara kakinya agak terbuka dan roknya agak pendek. Saat itu Amat sedang mengepel lantai kira-kira 3 meter di depannya. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuperhatikan tangannya berputar-putar mengepel lantai namun matanya memandang langsung ke arah celana dalam kakakku. Sementara posisiku di belakang Amat agak tersembunyi oleh lemari sehingga ia tidak tahu kalau aku ada di sana. Aku sendiri juga bisa melihat celana dalamnya. Membuatku bergairah apalagi saat melihat Amat menatap kakakku juga. Pandangan kakakku terhalang majalah yang ada di depannya sehingga ia tidak mengetahui kalau ada 2 orang cowok yang mengambil kesempatan dalam kesempitan menonton celana dalam dan kedua pahanya yang putih mulus itu. Tapi tak terjadi hal yang lebih jauh dari itu. Beberapa saat kemudian kakakku mengubah posisi duduknya dan Amat melanjutkan pekerjaannya.
Suatu
malam saat Jakarta diguncang gempa, malah lebih gawat lagi. Saat itu aku dan
kakakku buru-buru keluar kamar. Kemudian kami keluar ke taman belakang agar
lebih aman. Saat itu Amat keluar juga dari kamarnya. Saat terkena sinar lampu,
baru kusadari bahwa kakakku ternyata tidak memakai BH. Mungkin karena
terburu-buru, ia lupa mengenakan BH-nya. Ia memakai kaus tanpa lengan warna
hijau muda. Payudaranya bergerak-gerak dengan bebasnya. Sementara Jakarta
diguncang gempa, di bagian dadanya juga terjadi "gempa lokal". Kedua
putingnya nampak jelas sekali menonjol di balik kaosnya. Kira-kira seberapa
besar payudaranya terlihat cukup jelas di balik kaosnya. Aku yakin saat itu
Amat pasti juga terangsang melihat kakakku. Rasanya hampir pasti kalau setelah
itu ia melakukan masturbasi di kamarnya sama sepertiku. Untungnya Amat orangnya
pasif dan agak penakut jadi ia tidak berani melakukan hal-hal yang tidak
dikehendaki.
Beberapa
saat setelah itu, Amat berhenti kerja dan pulang kampung. Sebagai gantinya
pembantu perempuan, umurnya kira-kira 30-an, namanya Minah. Perlu diketahui,
orang tuaku cerai sejak aku masih kecil. Kami ikut Papa, tapi sejak beberapa
tahun terakhir Papa pulang seminggu sekali saja. Ia sibuk dengan pekerjaannya
di daerah. Dengan tidak adanya Amat, kakakku makin cuek dalam berpakaian. Sekarang
ia jadi sering tidak memakai BH saat di rumah. Membuatku jadi semakin gregetan saja dan membuat frekuensi
onaniku meningkat. Kadang timbul niat untuk mengintip kamarnya melalui jendela
kamarnya namun aku selalu membatalkan niatku ini. Pernah satu kali saat aku
tidak mengetok kamarnya, punggungnya sedang dipijit oleh Minah. Ia tidur
telungkup cuma mengenakan celana dalam saja.
Belakangan
garasi rumahku dipakai oleh pamanku untuk membuka bengkel mesin. Ada tiga orang
montir plus satu orang cewek bagian administrasi, namanya Neny. Pamanku tak
bisa setiap hari mengontrol jadi ia menggunakan tenaga seorang mahasiswa teknik
mesin yang magang sebagai supervisor mereka. Namanya Bagus. Orangnya hitam dan
tinggi besar. Wajahnya brewok namun selalu dicukurnya. Ia dua tahun lebih tua
dari kakakku. Dengan adanya beberapa orang di rumahku, kuperhatikan kakakku
kembali selalu mengenakan bra. Namun kalau aku ke kamarnya beberapa kali
kudapati ia tidak memakai bra. Sementara itu setahuku Bagus dan kakakku kadang
suka berbicara tapi tak pernah terpikir olehku ada hubungan yang lebih dari
itu. Sampai suatu ketika...
Hari
itu seperti biasanya pada hari Jumat aku ada kegiatan ekstra sampai sore.
Tetapi hari itu gurunya tidak masuk sehingga aku pulang cepat. Saat itu kulihat
lampu di kamar kakakku menyala, berarti ia ada di dalam, pikirku. Setelah
selesai mandi dan melewati kamar kakakku aku mendengar rasanya kakakku sedang
berbicara dan sepertinya ada orang lain di dalamnya. Aku bertanya-tanya di
dalam hati. Jangan-jangan cowoknya ada di dalam kamar, pikirku. Setahuku ia
telah putus dengan cowoknya beberapa bulan lalu. Mungkin telah baikan kembali.
Atau mungkin juga hanya perasaanku saja, sebenarnya ia sedang menelepon. Semula
aku ingin mengetuk kamarnya. Namun akhirnya kuputuskan untuk mengintip dari
jendela yang ada di taman samping dengan memakai tangga. Astaga! Betapa
terkejutnya aku saat kulihat di dalam kamar ternyata kakakku berduaan dengan
Bagus. Bagus sedang memeluk kakakku yang duduk berdempetan dengannya seperti layaknya
dua sejoli yang sedang berpacaran. Seolah tak percaya aku melihatnya. Tak
kusangka kalau kakakku mau berhubungan dengan cowok seperti Bagus. Padahal
kakakku dan Bagus sangat kontras perbedaannya dalam segala hal.
Kemudian
Bagus mencium bibir kakakku sambil kedua tangannya memegang pipinya sementara
jari-jarinya menggelitik bagian belakang telinga kakakku. Menyaksikan kakakku
pasrah bibirnya dilumat oleh Bagus seketika membuatku terpana. Kurasakan batang
kemaluanku menegang menyaksikan itu. Setelah beberapa saat menikmati bibir
kakakku, kepala Bagus bergerak turun mencium leher kakakku.
Kemudian
kedua tangan Bagus meraih payudara kakakku dan meraba-rabanya serta
meremas-remas dengan lembut. Sambil meremas-remas, bibirnya menikmati bibir
kakakku. Kakakku pun membalas ciumannya dengan penuh gairah. Karena terdorong
oleh gerakan tubuh Bagus ke depan, kakakku jatuh tertidur di ranjangnya. Di
atasnya Bagus makin bernafsu menciumi bibir kakakku sementara tangannya masih
sibuk meremas-remas susunya. Setelah itu Bagus menindih tubuh kakakku dan
menciumi lehernya. Kakakku mengerang-erang penuh gairah.
Beberapa
saat kemudian ia membuka satu persatu kancing baju kakakku dari atas ke bawah
kemudian disibakkannya piyama tidur yang dikenakan kakakku. Terlihatlah gunung kembarnya
yang masih tertutup oleh BH berwarna biru dan bergerak naik turun karena
nafasnya tidak teratur. Bagus semakin bernafsu saja, direngkuhnya payudara
kakakku dan diciuminya. Sambil menciumi payudaranya, tangan kanan Bagus turun
ke bawah menyibak rok kakakku. Tampaklah pahanya yang putih mulus serta celana
dalamnya yang juga berwarna biru. Tangan Bagus segera meraba paha kakakku,
memainkan jari-jarinya di pangkal pahanya. Setelah itu mulai meraba-raba bagian
tengahnya. Jarinya digesek-gesekkan di antara kedua pahanya membuat kakakku
mendesah-desah. Makin cepat digesek-gesekkan makin keras suara kakakku.
Sampai-sampai celana dalam kakakku mulai basah.
Kemudian
Bagus membangunkan kakakku. Dalam posisi terduduk bagus melepas piyama dan
roknya. Setelah itu Bagus juga membuka kaosnya sendiri dan melepas celana
jeans-nya. Tampak sebagian batang kemaluannya menyembul keluar dari celana
dalamnya. Tidak puas sampai di situ, tangan Bagus menggerayangi punggung
kakakku untuk melepaskan pengait BH-nya. Dengan agak bernafsu, Bagus melepas BH
dari tubuh kakakku dan melemparkannya ke lantai. Sejenak ia memandangi payudara
kakakku, menikmati keindahannya. Aku pun jadi ikut terpana menyaksikan
keindahannya. Payudaranya tampak putih mulus padat berisi dan masih kencang. Putingnya
berwarna merah muda berdiri dengan tegaknya. Setelah itu kedua tangannya
menggerayangi payudara kakakku dan meremas-remasnya. Jari-jarinya terutama ibu
jarinya menggerak-gerakkan dan memencet-mencet kedua puting susu kakakku
seperti mainan saja. Kakakku bukannya marah malah membuat tubuhnya
menggelinjang dan mendesah-desah tak karuan menikmati permainan tangan Bagus.
Kemudian Bagus mulai menciumi payudara kakakku. Kedua puting susu yang berwarna
merah muda itu dihisap-hisap bergantian kiri kanan dan ujung lidahnya
menjilatinya. Kakakku makin pasrah saja. Sambil melakukan itu, Bagus
menggesek-gesekkan tangannya ke celana dalam kakakku membuat kakakku jadi
"basah kuyup" sehingga bulu kemaluannya yang hitam jadi tercetak pada
celana dalamnya.
Setelah
itu Bagus menggesek-gesekkan batang kemaluannya di celana dalam kakakku.
Kemudian Bagus melepas celana dalam kakakku, sehingga ia dalam keadaan
telanjang bulat. Tampak bulu kemaluannya yang cukup lebat. Bagus membuka
lebar-lebar kedua pahanya sehingga ia dapat melihat liang vaginanya. Aku pun
juga dapat melihatnya walaupun arahnya kurang pas. Kemudian jemarinya mulai
bermain-main di sekitar vaginanya. Saat Bagus melakukan itu, kakakku tidak
melawan sedikit pun. Tampaknya ia sudah pasrah dan benar-benar terangsang
sehingga jadi lupa diri. Sambil melakukan itu, tangannya yang satu
memegang-megang bagian payudara.
Pandanganku
agak berkunang-kunang menyaksikan kakakku dijadikan mainan seperti itu. Aku
sama sekali tidak menyangka, kukira kakakku cewek alim yang masih suci ternyata
kok mau digituin sama Bagus. Namun entah kenapa aku jadi seperti tersihir
melihatnya. Lagipula kakakku tampak sangat menikmatinya. Apa yang sering
kubayangkan selama ini ternyata menjadi kenyataan. Setelah itu Bagus
menanggalkan celana dalamnya sendiri. Penisnya yang berwarna hitam telah
berdiri tegak. Penisnya telah disunat dan ukurannya jauh lebih besar dari
punyaku. Bagus segera menindih tubuh kakakku yang telentang dengan kedua paha
terbuka lebar.
Mereka
berpelukan telanjang bulat sementara baju mereka berserakan di lantai. Penis
Bagus menempel pada bulu kemaluan kakakku dan dadanya menindih payudara
kakakku. Bagus menciumi lehernya sementara dadanya menindih dada kakakku. Saat
itu Bagus pasti terangsang hebat karena ia dapat merasakan kedua puting kakakku
yang mengeras di dadanya. Lalu ciumannya turun ke bawah untuk menjilat-jilat
dan menghisap-hisap payudaranya. Aku sampai dapat mendengar kecupan-kecupan
Bagus di daerah sekitar payudara kakakku. Mereka berdua bergumul dengan asyiknya.
Kakakku pun tak kalah ganasnya dengan Bagus. Tangannya ikut memegang dan
mengocok penis Bagus. Dadanya didekatkan ke penis Bagus kemudian Bagus
menggesek-gesek penisnya di antara payudara kakakku. Kemudian kakakku
menempelkan dan menggesekkan payudaranya ke tubuh Bagus. Kadang ia juga
menciumi dada Bagus. Tubuh kakakku yang putih mulus tampak kontras dengan tubuh
Bagus yang hitam legam namun dengan asyiknya mereka bergumul di ranjang.
Setelah
cukup lama melakukan foreplay, Bagus
mulai mengambil "ancang-ancang". Kedua kaki kakakku dibukanya
lebar-lebar sementara ujung penisnya didekatkan di lubang vagina kakakku.
Posisi tubuhnya condong ke depan. Kemudian Bagus memajukan badannya ke depan
untuk mendorong penisnya memasuki vagina kakakku. Kakakku menjerit saat
vaginanya ditembus oleh penis Bagus. Tampak sebagian penis Bagus telah memasuki
vagina kakakku. Kemudian Bagus memasukkan penisnya lebih dalam lagi sampai
akhirnya penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina kakakku. Jantungku berdetak
dengan keras menyaksikan itu. Seketika aku berpikir bahwa kakakku pasti sudah
tidak perawan lagi. Paling tidak saat itu Bagus telah menikmatinya. Kemudian
Bagus mengeluarkan dan memasukkan penisnya lagi berulang-ulang, mengocok tubuh
kakakku. Kocokan Bagus itu tampak membuat tubuh kakakku berguncang dengan
hebatnya bahkan membuat buah dadanya bergerak vertikal dan berputar-putar.
Sementara kakakku mendesah-desah dibuatnya. Belum pernah aku melihatnya seperti
itu. Mendengar desahan kakakku dan menyaksikan buah dada kakakku yang
berguncang-guncang itu, Bagus jadi makin nafsu saja. Sambil menyetubuhi
kakakku, direngkuhnya buah dadanya, diremas-remas, bahkan diemut-emut
putingnya. Menyaksikan hal itu, aku jadi ikut terangsang juga sehingga aku
mulai memainkan penisku sendiri.
Kemudian
Bagus melepaskan dirinya dari tubuh kakakku. Ternyata mereka mengubah posisi.
Kakakku membalikkan badan dan menungging lalu ia membelakanginya. Lalu Bagus
kembali menyetubuhi kakak-ku dengan posisi doggy
style. Kakakku kembali mendesah-desah saat dikocok seperti itu sementara
wajah Bagus agak memerah. Sambil menyetubuhi, Bagus memegang-megang dan
meremas-remas payudaranya. Walaupun kamar kakakku menggunakan AC namun tubuh
mereka berdua terlihat basah oleh keringat.
Beberapa
saat kemudian mereka berganti posisi lagi. Kali ini kakakku dalam posisi miring
menghadap ke arahku, kaki kanannya diangkat ke atas pundak Bagus. Dalam posisi
agak terduduk, Bagus kembali "memompa" kakakku menikmati kehangatan
dan kenikmatan tubuh kakakku. Setelah itu giliran kakakku yang beraksi. Bagus
tidur telentang dengan penisnya berdiri tegang. Lalu kakakku berada di atasnya
perlahan-lahan memasukkan penis Bagus ke vaginanya kemudian menggerak-gerakkan
tubuhnya naik turun sambil ia mengerang-erang. Bagus pun juga mengeluarkan suara
erangan sambil tangannya kembali meremas-remas payudara kakakku.
Kemudian
mereka berganti posisi lagi. Kali ini mereka berdua berdiri di atas ranjang.
Kemudian Bagus meraih tangan kakakku dan menggenggamkannya ke penisnya sendiri.
Kakakku mengocok penis Bagus sementara Bagus mencium bibirnya. Lalu Bagus
menyetubuhi kakakku dalam posisi berdiri. Selama ini belum pernah aku melihat
posisi berdiri. Sambil menyaksikan aku terus melakukan onani. Kembali Bagus
membaringkan kakakku di atas ranjang. Ia melipat kedua kaki kakakku dan
menyilangkannya hampir 90 derajat saat ia menyetubuhi kembali kakakku. Kedua
tangan kakakku memegang pundak Bagus, sementara kedua tangan Bagus memegangi
paha kakakku. Pada saat itu kakakku mendesah-desah dan meracau tidak karuan. Rupanya
ia sudah akan mencapai klimaksnya. Menyaksikan hal itu, Bagus sedikit mengubah
posisinya. Mungkin tahu kalau kakakku cukup sensitif di bagian payudaranya,
sambil menyetubuhi, Bagus mengulum puting susunya. Dan ia mengocok makin lama
makin cepat membuat kakakku berteriak-teriak makin keras pula. Bagus malah
mempercepat kocokannya.
Akhirnya
kakakku benar-benar mengalami klimaksnya. Tak berapa lama setelah itu Bagus pun
juga mengalami ejakulasi. Ia menumpahkan spermanya di dalam vagina kakakku.
Pada saat mereka berdua telah selesai aku pun juga menumpahkan spermaku.
Setelah itu mereka berdua terengah-engah di atas ranjang. Sambil mengelus-elus
payudara kakakku, Bagus berkata bahwa kakakku benar-benar hebat. Sambil tersipu
malu kakakku berkata bahwa ia juga hebat. Tak lama kemudian Bagus bangkit dan
berkata kalau ia akan kembali bekerja takut nanti orang-orang curiga. Pada saat
Bagus memakai pakaiannya ia memandangi kakakku yang juga lagi mengenakan
pakaiannya. Setelah mengecup kakakku, Bagus keluar dari kamar dan kembali ke
tempat kerjanya. Setelah itu kakakku mulai tidur siang.
Setelah
aku selesai masturbasi, tinggal aku yang termangu-mangu menyaksikan peristiwa
luar biasa itu. Aku bertanya-tanya apakah saat itu kakakku masih perawan?
Rasanya sudah tidak, jawabku dalam hati, soalnya aku tidak melihat vaginanya
mengeluarkan darah, juga dari gelagatnya rasanya mereka pernah melakukan
sebelumnya. Kembali timbul pertanyaan dalam diriku, apakah Bagus yang pertama
kali menikmati keperawanan kakakku? Ataukah mantan cowoknya? Atau bahkan Amat?
Atau mungkin denganku di saat aku sedang tidur? Berapa kali kakakku pernah
tidur dengan cowok? Atau sudah berapa banyak cowok yang pernah menidurinya?
Atau mungkin ada salah satu di antara pembaca yang pernah berhubungan dengan
kakakku? Berjuta-juta pertanyaan ada di benakku yang mana aku tidak tahu
jawabannya. Mungkin malah aku tidak bakal pernah tahu jawabannya.
Barangkali
lebih bijaksana kalau aku tidak perlu memikirkan itu semua. Lebih baik aku
memulai petualanganku sendiri dengan cewek-cewek cantik dengan melakukan hal
yang sama seperti yang Bagus lakukan terhadap kakakku. Syukur-syukur kalau aku
dapat melakukannya dengan adik Bagus. Orangnya tak sebegitu cantik namun seksi
sekali.


