Twitter

Archive for 2014


nama saya Eva, 22 tahun. Saya seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Coventry, saya mengambil jurusan ilmu sosial. Sekarang saya ingin menceritakan pengalaman pribadi saya, jadi saya tidak lagi menceritakan tentang hasil riset saya bersama 2 teman saya.
Tanggal 11 Maret 2001, pukul 15:45 saya terbangun dari tidur siang saya, masih terasa semua badan saya letih dan pegal-pegal semua mungkin akibat dari perjalanan jauh saya tadi malam dari Lecce. Saya lihat sekeliling kamar saya masih berantakan, dan masih terlihat satu vibrator karet di sebelah komputer, majalah-majalah berserakan, baju-baju yang belum saya masukan ke dalam mesin cuci dan beberapa barang yang merusak pemandangan mata.
Sejenak saya berdiam dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, hingga akhirnya terdengar suara bel. Sesungguhnya masih malas sekali saya untuk menerima tamu pada saat itu. Tapi apa boleh buat, saya harus membukakan pintu.
Akhirnya dengan masih menggunakan kaos T-shirt dan celana pendek jeans dan rambut saya yang masih agak kusut sedikit, saya bukakan pintu. Wah, ternyata si Gillian yang datang, tampak ia membawa dua bungkus kantong plastik, entah apa isinya. Seperti biasa, ia langsung masuk ke dalam. Sambil berjalan masuk ia mengatakan bahwa ia baru membeli 2 kaset video blue film dan beberapa makanan ringan serta soft drink. Ia mengatakan pula bahwa ayah dan adiknya akan datang menengoknya tanggal 4 Maret. Ia tampak gembira sekali, masih tampak dengan jelas kelakuan teen. Ia langsung menuju ke dapur, ia buka refrigerator dan ia masukan beberapa kaleng minuman ringan sedangkan makanannya ia taruh di atas meja di dekatnya. Gillian adalah orang Italy, ia berumur 20 tahun dan ia adalah adik kelasku. Ia cantik sekali, badannya yang proposional, ia banyak digandrungi laki-laki di kampus.
Saya tidak peduli apa yang akan ia lakukan lagi setelah itu, sehingga saya memutuskan untuk masuk ke kamar dan berusaha merapikan dan membersihkan kamar saya yang sangat berantakan. Saya taruh barang-barang pada tempat semula saya ambil hingga beberapa kali saya keluar masuk kamar. Saya lihat sepintas Gill sibuk menyalakan video dan ia ingin melihat film yang baru ia beli. Saya vacum, saya lap pada bagian tertentu dan saya semprot sedikit dengan pengharum ruangan, setelah semuanya saya kira sudah cukup, saya mandi.
Cukup lama juga saya di dalam kamar mandi, saya ingin melepaskan semua rasa lelah saya yang masih tersisa. Saya berendam dengan air hangat, sambil mendengarkan musik dari radio dengan walkman.
Setelah selesai, saya berpakaian, dan saya tidak mendengar ada tanda-tanda kehidupan dari Gill, saya penasaran apa gerangan yang ia lakukan?
Oh My Godness, rasanya saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Gillian sedang menonton blue film sambil mengemil makanan kecil dan tampak sedikit berantakan. Ia tampak serius sekali melihat filmnya. Saya duduk di sebelahnya, dan menghadap ke TV, tampak di layar TV, satu perempuan sedang disetubuhi dengan 3 laki-laki. Kelihatannya Gill mengikuti dengan serius, ia tidak menggubris saya.
"Agh, blue film.. rasanya bosan sekali saya melihat blue film, adegan yang dipertontonkan hanya itu-itu saja, yang berubah hanyalah pemainnya saja. Huh..." pikir saya dalam hati melihat pertunjukan di TV. Akhirnya saya putuskan untuk tetap duduk dan posisi saya sedikit agak turun sehingga pangkuan pada tubuh saya hanyalah kedua siku dan pantat serta kepala bagian belakang saja. Karena saya tidak berminat apa-apa terhadap yang ada di TV, saya menerawang ke atas, saya memikirkan keluarga saya di Jakarta, saya jadi memikirkan mama, adik dan saudara-saudara. "Sedang apa ya mereka sekarang?" tanyaku dalam hati. Saya pun ingat pada beberapa kejadian dan kenangan manis dengan pacar saya William. Rasanya lama saya berkhayal sedangkan Gill tetap sibuk dengan kegiatannya. Hingga akhirnya, ia membuka pembicaraan yang sempat membuat saya kaget.
"Ev, apa kamu lihat begitu hebatnya pria Greek itu, dia begitu jantan sekali... Ooh, saya menjadi terangsang sekali.." katanya sedikit menggebu.
"Mmm... bolehkah saya masturbate di sini? Ev? Saya benar-benar ingin berfantasi berhubungan dengan keparat Greek itu.." tanyanya sedikit terbata-bata takut saya menolak dan mohon kepada saya untuk membolehkannya.
Saya diam sejenak, saya lihat ke arahnya, dan ia menengokku juga. Tampak sekali bahwa ia sudah benar-benar terangsang akibat dari apa yang telah ia lihat. Raut wajahnya terlihat merah padam seakan menyatakan akan gairah seksnya yang terpendam. Saya tersenyum padanya, saya benar-benar tersenyum melihat kelakuannya dan bahasa tubuhnya.
Tanpa menjawab pertanyaan sekaligus permintaannya, saya beranjak dari tempat duduk, saya bangkit dan menuju ke dalam kamar. Dalam perjalanan, Gill mengatakan pada saya sambil melihat saya ingin tahu ke mana saya pergi, ia mengatakan dengan memelas, "Saya benar-benar terangsang, Ev..."
Saya mengambil satu vibrator saya yang dapat bergetar dan bergerak naik turun kira-kira panjangnya 8 inches, dan saya keluar dari kamar, sambil membawa vibrator di tangan. Saya melihat wajah Gill begitu senang, ia tampak tersenyum. Manis sekali senyumannya. Saya serahkan vibrator saya pada dia sambil mengatakan, "Gill, kalau kamu mau masturbate, gunakan ini, ini akan sangat membantumu..." Setelah menyerahkan pada Gill, saya pergi ke dapur, saya mencari-cari makanan dan membuat 2 gelas teh. Saya benar-benar merasa lapar sekali. Saya ingat-ingat, terakhir saya makan adalah tadi pagi sekitar jam 04:30.
Saya membuat mie instan 2 bungkus sambil menunggu matang, saya intip Gillian dari kaca jendela. Astaga! Dia sudah masturbate! sedangkan pertunjukan yang ada di TV sudah berubah, tampak di layar TV seorang laki-laki yang sedang dikerjai oleh dua wanita, penisnya dihisap, sedangkan yang satunya lagi sedang menikmati setiap hisapan, jilatan laki-laki tersebut pada vaginanya. Tampak Gill sedang mengeluar-masukan vibrate milik saya, walaupun kurang jelas sebab ia duduk membelakangi saya.
Sekali lagi, saya tidak peduli dengan apa yang sedang saya lihat, saya tetap melanjutkan kegiatan saya memasak mie instant dan memakannya sendirian. Beberapa kali terdengar lengkuhan dan desahan Gill, rasanya ia menikmati apa yang sedang ia lakukan. Saya tetap makan dan menghabiskannya.
Setelah selesai, dan mencuci piring kotor serta membersihkan beberapa bagian yang kotor, saya kembali kepada Gillian. Pelan-pelan saya berjalan mendekatinya, hingga akhirnya saya berdiri beberapa meter di belakangnya. Saya dapat melihat dengan jelas apa yang dia lakukan, saya pun dapat melihat dengan jelas bibir vagina serta payudaranya yang bulat dan putih. Ia hanya menurunkan celana dalamnya hingga lututnya dan ia merenggangkan sedikit kedua pahanya. Ia sibuk mengeluar-masukan vibrate dengan frekwensi bervariasi, kadang pelan dan halus, namun kadang juga cepat dan sedikit kasar. Sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bibir vaginanya bagian atas sesekali meremas payudaranya sendiri bergantian.
Wow, pemandangan yang sangat mengasyikan buat semua laki-laki tentunya. Namun saya sungguh tidak terangsang dengan apa yang saya lihat atas Gill sebab saya masih normal, saya hanya suka pada kaum pria. Memang saya akui bahwa saya sedikit terangsang tapi itu bukan karena melihat tubuh Gill, melainkan terangsang karena apa yang saya lihat dari apa yang ditayangkan di TV. Terlihat di layar TV, seorang perempuan memompa penis yang berada di dalam vaginanya sedangkan wanita yang lain, sedang berusaha menjilati penis yang sedang keluar masuk di dalam vagina temannya. Wow, fantastic!
Hingga akhirnya saya tidak tahan, saya raba sedikit kemaluan saya dari balik celana pendek saya. Beberapa kali saya melakukan rangsangan pada diri saya sendiri. Rasanya dengan posisi berdiri kurang nyaman, akhirnya saya putuskan untuk duduk di sofa dekat Gill. Ketika saya datang, rupanya Gill sedikit kaget, tampak dari tubuhnya yang sedikit tersentak melihat kehadiran saya.
Dia benar-benar tidak menduga, dan yang membuat saya ingin tertawa adalah pada saat itu pula ia orgasme, jelas sekali ia bergetar, dan mengeluarkan vibrate dari dalam vaginanya dan sambil merapikan posisi duduknya. Ia tampak nervous, sungkan, malu, entah apalagi. Sambil merapikan duduknya, ia agak berdiri dan berusaha merapikan pakaiannya terutama celana dalam yang berada di bawah dengkulnya pada saat ia berdiri.
Melihat sikap yang gelagapan yang dilakukan oleh Gill, mata saya melihat ada beberapa tetes lendir dari dalam vaginanya yang jatuh di karpet. Sepertinya ia tahu apa yang saya lihat, ia buru-buru menunduk berusaha untuk membersihkannya, namun dengan cepat saya katakan padanya sambil mendekatinya dan menepuk-nepuk pundak kirinya, "It's ok.. it's ok.. I can feel what's your feel.. it's ok... I'll not angry.."
Setelah itu saya masuk ke dalam kamar, saya mengulang kembali kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu sambil tersenyum sendirian. Pada saat saya membayangkan yang baru saja terjadi, terlintas dalam pikiranku bahwa saya ingin membeli roti di mini market dekat flat saya untuk sarapan besok sebelum saya berangkat ke kampus. Saya langsung meloncat dari tempat duduk lalu berdiri dan keluar dari kamar. Saya lihat di jam dinding menunjukan pukul 16:20, saya teringat bahwa Raymond dan Middleton teman saya ingin datang ke sini untuk mengerjakan tugas untuk besok. Mereka mengatakan bahwa mereka akan datang jam 17:00. Wah, saya benar-benar bingung mengingat waktu yang mungkin tidak cukup.
Akhirnya dengan sedikit terburu-buru, saya ambil sweater, jam tangan dan berganti celana panjang. Saya berlari kecil keluar kamar. Sambil berlalu, saya katakan pada Gill bahwa nanti andai ada Ray dan Middlenton datang, bukakan pintu, katakan pada mereka saya sedang keluar beli roti di blok 12. Belum terdengar jawaban dari Gill, saya langsung menutup pintu.
Akhirnya saya dapat berbelanja keperluan saya secepat mungkin dan saya kembali lagi ke flat. Sesampainya di depan pintu, saya lihat jam tangan saya menunjukan pukul 16:50. Ugh, lega rasanya, dan sepertinya masih ada waktu 10 menit lagi untuk mandi sebelum mereka datang. Setelah membuka pintu, saya kaget melihat bahwa ternyata Raymond dan Middleton sudah ada di dalam. Tampak Raymond dan Gillian sedang menonton TV yang acaranya sepak bola sedangkan Middleton sedang berusaha membuka sebuah botol wine dengan wine opener.
Setelah saya tanyakan kapan mereka tiba dan sedikit berbasa-basi, saya menghampiri Raymond dan membisikan dari belakang padanya tentang Gillian, sambil tetap membawa beberapa bungkus plastik belanjaan saya. Raymond rupanya tersentak, ia langsung menoleh pada saya dan menanyakan sekali lagi, untuk meyakinkannya dan saya jawab dengan anggukan saja dan ia pun tersenyum.
Saya pun menaruh barang-barang belanjaan saya, lalu saya pamit untuk mandi sebentar. Entah dari mana asalnya, pada saat saya mandi, terlintas kembali adegan film yang saya lihat sebelum saya pergi belanja. Saya begitu terangsang sekali hingga tanpa saya sadari saya menyabuni tubuh saya dengan lembut dan tangan saya melakukan hal-hal yang merangsang diri sendiri. Saya sentuh dengan lembut klitoris saya, saya remas dengan lembut payudara dan sesekali pula saya masukan satu atau dua jari tangan saya ke dalam vagina saya. Entah berapa lama saya melakukan itu, hingga akhirnya saya orgasme. Setelah itu saya mencuci vagina saya dan saya sabuni seluruh tubuh saya sekali lagi, terlintas dalam pikiranku, bahwa setelah ini saya akan Online di internet, saya akan menonton video XXX melalui internet.
Seperti niat saya di dalam kamar mandi, setelah saya berpakaian, saya nyalakan komputer untuk masuk dalam dunia cyber. Sambil menunggu connect, saya keluar sebentar untuk mengambil segelas air putih sambil ingin melihat apa yang sedang terjadi dengan teman-teman saya. Saya lihat, Middleton sedang menikmati wine-nya sambil ikut menyaksikan apa yang ditayangkan pada TV. Sekejap saya lihat apa yang ada di TV. "Ooo.. ternyata blue film lagi... wah, ini pasti idenya Raymond, tapi apa idenya Gill?" tanyaku dalam hati. Saya lihat Raymond dan Gillian sedang duduk dan serius memperhatikan film yang ada. Mereka kelihatan tegang sekali, bisa saya lihat dari raut wajah mereka berdua sedangkan Middleton tampak lebih santai sebab ia sambil menikmati wine yang ada di hadapannya. Saya tersenyum kecut melihat ini.
Setelah saya ambil satu botol air putih dan satu gelas kosong, saya kembali ke kamar saya sambil tetap melirik kelakuan teman-teman saya, saya kembali tersenyum dan saya lihat Middleton sedang meneguk wine-nya.

Saya lihat bahwa komputer saya sudah siap, dengan cepat saya connect, sambil menunggu permintaan saya untuk dapat menonton blue film di situs Swedenteen, saya check e-mail, siapa tahu ada kabar dari William atau dari keluarga saya, saya pun ingin memberi kabar pada mereka (termasuk William) bahwa mungkin pada akhir bulan Maret, saya akan pulang ke Indonesia, saya katakan bahwa saya libur 1 bulan (walaupun sebenarnya hanya kira-kira 2 minggu), saya sampaikan pula salam kangen dan salam sayang buat mereka dan pesan agar mereka menelepon saya sebab saya kangen dengan mereka.
Setelah gono-gini, akhirnya saya dapat menonton blue film, dan saya pilih orgy diantara banyak pilihan yang lainnya. Adegan demi adegan saya tonton dengan serius hingga akhirnya saya pun merangsang diri saya, saya raba dengan lembut vagina saya naik turun dari luar celana ketat saya, nampaknya sudah agak lembab oleh beberapa lendir yang keluar. Saya buka bra dan saya lempar ke tempat tidur, lalu saya remas dan berusaha menghisap sendiri payudara saya yang berukuran 34, saya mainkan puting saya, saya pilin dengan pelan-pelan dan lembut.
"Uuuh.. ahhh.." saya mendesah karena nikmat yang saya lakukan sendiri. Saya membayangkan bersetubuh dengan pria, saya bayangkan ada sebuah penis yang dapat saya kulum atau masukan ke dalam vagina saya seperti tampak pada monitor komputer. Beberapa kali saya mendesah pelan dan tak lama kemudian tubuh saya tegang sumua,(bersambung)

Namaku Rifan, panggilannya Ifan. Cerita ini setahun lalu, waktu aku masih kelas 2 SMU (sekarang kelas 3). Dalam soal sex, aku mengenal diri sendiri sebagai orang yang nafsu besar dan suka nekat demi kepuasan sex saya sendiri.

Aku sering mengintip cewek-cewek sekolahku yang sexy sambil onani, nafsuin, dan sebagainya dari berbagai tempat sepulang sekolah. Misalnya, mengintip cewek-cewek cheerleaders kalau sedang latihan dari jendela kelas di tingkat dua. Pernah juga nekat bersembunyi di dalam WC cewek (untungnya saja tempatnya bersih) dan mengintip paha–paha ataupun celana dalam cewek-cewek dari kolong pintu yang sedang ganti baju olahraga, habis pipis, dan lain-lain. Bahkan tidak hanya siswi-siswi saja yang jadi 'korban' pelampiasan sex, guru-guru wanita yang nafsuin, cantik, sexy dan sebagainya juga pernah.

Seperti telah dibilang tadi, waktu saya kelas 2, di kelas ada seorang cewek cantik, namanya Vina. Tapi tidak seperti biasanya, nafsu tidak bergejolak, hanya biasa-biasa saja. Malah, yang ada aku justru jatuh cinta sama dia. Dan kayaknya sih dia juga. Tidak hanya itu, anak-anak juga sering meledek ataupun mencomblangkan aku sama dia.

Pada awalnya saat aku melihat tingkah laku dan ekspresi wajahnya, aku menilai dia sebagai cewek yang bukan nafsu besar. Vina memang tidak sexy, badannya tidak berisi-berisi banget. Pantatnya juga tidak bahenol. Dadanya juga mungkin kurang sedikit dari 34. Tapi kulit putihnya, pahanya yang sering kelihatan dan leher seragamnya yang suka kendor membuat nafsuku jadi lama-lama bergejolak. Model rambutnya sangat kusuka. Ikal, belah tengah agak ke pinggir, dan berwarna hitam kebiruan/blue black. Tapi, pikiranku tertutup oleh Ja-Im (jaga image) di depan dia, dan berpikir nanti saja kalau sudah jadian saja baru bisa ngapa-ngapain.

Suatu hari, aku menjalankan niat nekatku seperti biasa. Pertama aku bersembunyi di WC kamar mandi cewek. Aku tahu pada hari itu cewek-cewek cheer mau gladi resik, jadi sekalian memakai seragam lomba yang tentunya sedikit terbuka (sudah gitu ditambah pula cewek-ceweknya sexy-sexy lagi). Yang kulihat waktu itu adalah beragam model celana dalam yang beberapa menyelip di belahan pantat, mulai dari yang putih polos, polkadot, biru, dan lain-lain.

Barang yang di bawah segera berdiri tegak, dan aku mencoba membuka retsleting perlahan. Setelah beberapa saat aku mulai onani, tiba-tiba ada cewek yang masuk ke WC, lalu ngobrol-ngobrol sama cewek-cewek cheers itu. Dan ketika kulihat sepatunya, ternyata Vina. Dia lalu sedikit membetulkan rok abu-abunya, kemudian mengangkat kedua kakinya bergantian ke tembok untuk membetulkan tali sepatu. Saat itu kulihat jelas paha mulusnya yang putih bersih. Betapa kencangnya barangku waktu itu. Tapi sebelum aku bisa mengeluarkan spermaku, cewek-cewek sudah pergi semua. Akhirnya aku mengambil tempat lainnya itu dari kelas. Aku mengintip dan melanjutkan onani sambil duduk di kursi dekat jendela. Fuuhhh.., cheers itu sexy-sexy sekali.

Tidak lama, tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depan kelasku yang sepertinya adalah cewek. Tiba-tiba lagi, belum sempat aku membetulkan celana, cewek tersebut masuk kelasku. Ternyata si Vina..! Kagetku tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata ataupun tulisan dengan bahasa apapun. Maluku juga bernasib sama. Cat merah pun mungkin masih kalah merah dibanding wajahku.

Vina lalu setengah berteriak, "Yaampuuunnn.., si Ifaaan.. ngapain kamuuu..?" (Vina kalau ngomong denganku pakai aku-kamu).
Vina melihatku dengan setengah senyum malu-malu. Bibirnya yang tersenyum dia tutupi dengan kedua telapak tangannya seperti orang menyembah.
Dengan terbata-bata aku berbicara, "Eehh.., Vin.., ini..."
Dia langsung memotong omongan gagapku itu, kembali dengan ekspresi senyuman, "Hahaa.., dasar..! Sini dong bantuin nyariin buku LKS-LKS yang ketinggalan..."
Sejenak aku justru bingung. Vina yang sudah melihatku setengah bugil bawah kok biasa-biasa saja, dan malah minta tolong mencarikan buku lagi..? Pikirku, ya sudahlah.., semoga saja dia tidak 'ember' (cerita-cerita sama orang lain). Dengan pura-pura tidak ada apa-apa, aku langsung menghampirinya dan membuka serta mencari-cari di lemari kelas. Vina berdiri di dekatku sambil membungkuk. Waktu aku sedang mencari-cari buku, aku menyadari kalau Vina memperhatikan aku.
Saat kulihati dia, dan kutanya, "Kenapa, Vin..?", dia hanya menjawab, "Ehem.., Ooh.., enggaaak..." dengan nada manja.

Lalu sekilas kulihat leher seragamnya agak turun, sehingga buah dadanya yang terbalut bra terlihat. Memang sih tidak besar dan tidak kecil, tapi dapat membuat nafsuku bangkit. Lalu kuteruskan lagi mencari buku-bukunya. Tahu-tahu, Vina mendekatkan wajahnya ke pipi kananku, dan menciumnya lembut. Akibatnya, bulu kudukku jadi merinding. Apalagi ditambah ciuman Vina merambat sampai ke daerah kuping.

Aku setengah berbisik, "Vin..," dia malah meneruskan ciumannya ke bibirku.
Tanpa pikir panjang, kuterima dan kubalas ciumannya. Tidak mau kalah. Vina lalu melingkari kedua tangannya di leherku. Aku pun memeluk badan pinggangnya sambil sekali-sekali kuelus pantatnya. Vina memulai ciuman lidahnya. Kubalas lagi, kutabrak-tabrakkan lidahnya di dalam mulutku itu dengan lidahku. Ternyata diam-diam Vina nafsuan juga. Aku mencoba menyelipkan salah satu tanganku ke balik kemeja seragamnya yang sudah keluar. Punggungnya benar-benar enak dielus.

Ciumanku sudah lumayan lama. Vina nampak menikmati mengulum-ngulum lidahku. Kemudian, Vina membuka kemejanya sendiri dan kemejaku juga. Untung saja waktu itu aku kebetulan tidak memakai kaos dalam, jadi tidak terlalu repot-repot. Vina lalu mencopot bra-nya, modelnya yang tidak memakai tali. Saat sepintas kulihat, payudaranya nampak kencang dan sedikit membesar, mungkin ereksinya cewek. Apalagi saat kuraba-raba, terasa sekali betapa kencangnya payudara Vina. Putingnya berwarna coklat gelap.

Masih dalam posisi berdiri, kuturunkan kepalaku dan kuelus payudara indahnya itu dengan lidahku. Sekelilingnya kubasahi dan kujilati kembali. Vina menikmati jilatan lidahku ke payudaranya. Ia meresponnya dengan, "Aahhh.., uughhh..," dan dengan sedikit jambakan ke rambutku. Tidak berapa lama setelah menghisap 'pepaya bangkok', Vina menuntunku untuk duduk di kursi, dan dia melucuti celana abu-abu dan celana dalamku. Vina ingin 'spongky-spongky' (oral seks).

Sebelum mulai, Vina sempat mengocok-ngocok sedikit sambil mendesah, "Aghh.., ahh..,"
Kini aku tahu bagaimana rasanya apa yang banyak orang bilang seperti terkena getaran atau sengatan listrik. Barangku langsung ereksi sekeras-kerasnya. Vina mulai pelan-pelan memasukkan barangku ke mulutnya, agak malu-malu.

Saat bibirnya mengenai ujung barangku itu, aku langsung refleks mendongak ke atas, kedua tanganku mencengkeram pinggir meja dan kursi dengan keras. Namun, setelah beberapa lama Vina naik turun menghisapi barangku, sudah mulai biasa. Ternyata nikmat sekali. Vina juga sekali-sekali menjilati sekeliling barangku, dan kemudian lanjut menghisap. Saat itu mungkin itulah ereksi terbesar dan terkerasku selama ini, dan juga mungkin terpanjang.

Vina memegang pangkal batang kejantananku dengan keras. Vina yang kadang mengelus bulu testisku dan menjilatinya membuatku sangat geli namun bukan geli untuk tertawa, melainkan geli nikmat. Selama kegiatan sex itu, aku dan Vina tidak mengeluarkan dialog apa-apa kecuali hanya mendesah, "Aghg.. ehhh..." dan desahan-desahan lainnya.

Tidak lama kemudian, Vina tidak mendudukiku, tapi ia justru berjongkok dan mulai meng-onani-kan aku. Sejenak aku berpikir mungkin ia belum mau perawannya hilang. Tetap saja pada akhirnya aku tidak perduli. Aku menerima kocokannya yang ternyata lebih enak daripada kocokanku sendiri. Apalagi bila kocokan tangannya mengenai pangkal kepala penisku, wuiihhh.., mungkin seperti listrik ratusan volt. Mungkin karena nafsuku yang sangat besar, orgasme-ku sedikit lagi tercapai.

Aku langsung menyuruh Vina bersiap-siap, meskipun untuk ngomong pun susah karena desahan, "Vin.., ehh... hhh... bentar lagi.."
Vina tidak menjawab. Namun dia sudah siap membuka rongga mulutnya di depan kemaluanku.
Lalu, "Crooottt..!" akhirnya aku ejakulasi.
Setelah beberapa semprotan, aku sempat berhenti beberapa detik, dan kuangkat badan Vina. Aku bermaksud untuk menyiram spermaku tidak hanya di wajahnya saja, namun di payudaranya juga (seperti di film-film biru).

Akhirnya setelah kutahan, kuteruskan siraman air maniku itu ke dadanya, meskipun tinggal beberapa semprotan. Vina kemudian terdiam sejenak. Dia menghempaskan kelelahannya. Sambil melihati dadanya yang tersiram mani, ia juga mengelap wajahnya yang lebih penuh dengan cairan hangat putih kental dengan telapak tangannya.

Vina lalu berkata, "Iiihh.., Ifan banyak amat siihh..!" sambil tersenyum.
Kemudian ia mengambil handuk kecil yang sering ia bawa dari tasnya, dan lanjut membersihkan maniku lagi. Setelah itu, ia yang masih telanjang bulat menduduki pahaku sambil melingkari tangannya di leherku.
Lalu ia berkata, "Fan.., yang ini (sambil menunjuk ke selangkangangannya) jangan dulu yah.., kalo mau kayak tadi aja.."
Aku langsung mengerti maksudnya dengan mengangguk sambil tersenyum.

Kemudian, setelah ia memelukku dengan erat, ia menyuruh supaya segera berpakaian.
"Fan.., ayo beres-beres, pakean lagi.., nanti tau-tau ada guru atau petugas sekolah looo..!"
Aku dan Vina segera berpakaian dan keluar kelas dengan hati-hati setelah mengambil LKS yang dia cari tadi, dan memasang tampang biasa-biasa supaya tidak dicurigai.

Malamnya, akhirnya aku dan Vina resmi jadian. Lumayan aneh kan, terbalik, jadian setelah bercinta duluan. Sejak itu hingga sekarang, aku tidak pernah lagi mengintip dan onani melihat cewek cheers, di WC cewek ataupun guru-guru wanita.
TAMAT



Ini benar-benar kisah nyata terjadi pada diriku. Aku menulis cerita ini hanya karena ingin input dari para pembaca. Peristiwanya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih kuliah tingkat-tingkat awal di Jakarta. Dalam kesempatan liburan, aku pergi menemui saudaraku di kota Bandung. Secara tidak sengaja aku berkenalan dengan seorang wanita berumur (waktu itu) sekitar 26-27 tahun, sedangkan umurku (waktu itu) awal 20-an. Kami berkenalan di atas kendaraan umum (angkot). Sebut saja namanya Eva (nama samaran). Karena aku tidak punya acara khusus, aku ikut saja waktu diajak jalan-jalan nonton. Setelah itu kami berpisah dan ia sempat memberiku alamat.

Kemudian aku kembali ke Jakarta. Aku mengirimi dia surat tapi tak satu pun yang dibalas. Di Jakarta aku sendiri kost (ortuku di kota lain) jadi sering berpindah-pindah juga. Selama bertahun-tahun kami tidak pernah kontak lagi bahkan lewat surat sekalipun. Akhirnya aku mengirim surat lagi entah keberapa kali, kuberikan alamat kostku yang baru lengkap dengan nomor telepon. Tidak dijawab. Baru kemudian suatu hari Mbak Eva meneleponku, katanya dia sekarang bekerja di Jakarta. Itu terjadi 4-5 tahun setelah perjumpaan kami yang pertama.

Kemudian Mbak Eva memberiku alamat kostnya di daerah Kota. Aku sudah selesai kuliah saat itu dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pada suatu hari minggu aku cari alamat kostnya dan ketemu. Tempat kostnya sangat lengang, rapi dan ber-AC. Aku tidak tahu apa pekerjaannya. Waktu aku ke sana ia sedang mandi jadi aku tunggu di ruang tamu. Akhirnya dia muncul! Wajahnya sama seperti dulu, tinggi, cantik, putih, matanya kecoklatan, badannya pas sekali. Ia memakai baju handuk panjang. Aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Singkatnya ia mengajakku ke kamarnya karena lebih nikmat ngobrol di sana katanya. Terus terang aku grogi. Tapi kami hanya ngobrol saja. Sikapnya seperti seorang kakak terhadap adiknya.

Di kamarnya itu hanya ada satu kursi rias, jadi aku duduk di tepi tempat tidur. Dia pun akhirnya mengikutiku duduk di sana. Kami bertukar cerita kemana saja selama ini. Secara tiba-tiba Mbak Eva mengecup bibirku, aku kaget setengah mati, tidak menyangka ia akan melakukan itu terhadapku. Ia mendorongku untuk berbaring sambil mulai membuka pakaianku dan menciumi setiap inchi tubuhku. Anehnya aku diam saja walaupun ketakutan. Setelah itu ia membuka baju handuknya dan ia tidak mengenakan apapun. Aku masih berbaring tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil menyuruhku menciumi tubuhnya. Ia bergerak pelan-pelan ke atas hingga bibirku yang ada di bawah (aku selalu berbaring) otomatis mengikuti arah ia menggerakkan tubuhnya, dari bibir, dada terus hingga berhenti di selangkangannya.

Terus terang aku tidak ingin menceritakan secara detil karena pasti akan vulgar, dan aku pun tidak pandai merumuskannya kembali. Singkatnya, seharian itu aku benar-benar "dikerjain" dan ia tidak memberi kesempatan sedikitpun buatku untuk berada di atas. Ia bergerak dan terus bergerak, sementara aku dibiarkannya menggelepar-gelepar kehilangan keperjakaanku. Hari sudah sore dan kami "selesai". Aku pulang. Sejak itu aku beberapa kali mampir ke kostnya tapi tidak pernah mengulangi lagi. Pertama karena aku trauma, kedua karena tempat kostnya kebetulan sedang ramai (penuh) jadi tidak mungkin masuk ke kamarnya. Mbak Eva pun tidak pernah lagi menyinggung soal itu, hubungan kami baik sekali seperti kakak-adik. Beberapa bulan kemudian dia cerita bahwa dia kini sudah punya pacar dan harus pindah dari tempat kostnya. Kemudian ia pindah. Saat ini aku kehilangan jejak. Entah ia ada di mana, rumahnya di Bandung pun tidak dihuni lagi. Sekarang aku tidak pernah lagi mendengar tentangnya.

Aku ingin menekankan keadaanku sekarang. Sejak itu rasanya aku tidak bisa melupakan pengalamanku dan melupakan Mbak Eva. It must have been love, but it's over now, kata sebuah lagu. Selain itu aku jadi susah untuk fallin' in love lagi. Bayanganku selalu pada wanita yang beberapa tahun usianya di atasku, anggun, tenang, berwibawa, tapi bisa tiba-tiba wild dan mengerjai aku dari atas. Aku tahu bahwa keadaan psikologisku ini tentunya tidak sehat. Bagaimanapun aku harus melupakannya, tidak boleh murung dan mencoba untuk "sembuh" serta mau mendekati wanita lain. Saat ini aku sudah bekerja dengan baik, dengan penghasilan yang cukup. Rasanya tidak ada yang berubah dalam diriku, kecuali dampak kejiwaan dari peristiwa itu, beberapa jam yang menegangkan dalam hidupku.


TAMAT



Saya punya pengalaman menarik bersama seorang ibu rumah tangga yang sepertinya baru pertama kali nonton blue film. Awalnya ketika saya sehabis pulang menyewa laser disk, saya disapa oleh dia, dan dia bertanya apa yang saya bawa. Saya jawab saya baru saja nyewa film dan dia bertanya pada saya mengenai film tersebut. Saya jawab saja blue film. Dia pertamanya mencela saya nyewa kok film begituan, saya sama dia memang sudah akrab banget makanya saya berani bercandain dia, lalu saya ajak dia nonton. Tidak disangka dia mau, katanya sih dia belum pernah nonton film begituan. Saya mengira-ngira dia berumur 26 tahunan, masa sih belum pernah nonton film BF. Pendek cerita nih..., saya bersama dia sedang nonton blue film yang baru saya sewa.

Selama nonton, kami hanya diam dan serius. Setelah beberapa saat, saya melepas kesepian dengan nanya dia, apakah selama kawin dengan suaminya dia pernah melakukan anal seks. Dia bilang tidak pernah meskipun dengan malu-malu. Saya bilang anal seks itu nikmat, masa belum mencobanya? dia bilang orang-orang Indonesia tidak biasa melakukan anal seks. Saya bilang ah tidak juga, saya bilang cewek-cewek yang pernah saya setubuhi pertama-tama saya ciumi dulu liang kewanitaannya, jelas saya tanpa aling-aling. Dia kaget banget mendengar penjelasanku dan dia tidak percaya.
Saya bilang sama dia apakah dia mau? kalau mau bisa saya laksanain sekarang. Saya hampiri dia, tanpa ragu saya langsung pegang pahanya dan saya berusaha membuka kedua pahanya. Dia meronta-ronta dan bilang sama saya jangan ahh... dia sekuat tenaga berusaha menutup pahanya. Saya duduk di depannya yang duduk di kursi sedang saya duduk di lantai. Saya bilang tidak usah malu-malu, sambil tanganku masuk ke dalam roknya. Saya elus-elus pahanya yang mulus banget, tanganku masuk dalam banget ke dalam roknya. Saya berusaha menelusupkan tanganku di antara kedua belah pahanya, berhasil juga. Terus saya mencari belahan memeknya. Terasa oleh tanganku CD nilonnya, ternyata sudah basah.

Saya usap-usap belahan memeknya walaupun masih dibungkus CD. Saya lihat reaksinya, ternyata rapatan pahanya melonggar, saya terusin gosok-gosok belahan kemaluannya. Kadang-kadang dia malah merapatkan pahanya erat-erat tapi kadang-kadang melonggar. Lama juga sih, akhirnya saya buka pahanya lebar-lebar sehingga CD-nya kelihatan. Tangan saya masukin ke dalam CD nilonnya, liang kewanitaannya yang hangat saya elus-elus, saya sentuh clitorisnya. Kemudian ku tarik CD-nya hingga lepas, saya lihat belahan memeknya yang sangat indah berwarna coklat kemerah-merahan. Tanganku sedikit menekan terus menggosok-gosok liang kewanitaannya. Jari tanganku menyibakkan bibir kemaluannya, saya lihat lubang kemaluannya. Saya jadi tidak tahan, maka kulumat liang kewanitaannya dengan lidah dan bibirku. Kepalaku tenggelam dalam selangkangannya. Saya sentuh-sentuh clitorisnya dengan lidahku. Terasa oleh lidahku liang kewanitaannya ternyata menghasilkan cairan yang rasanya nikmat sekali. Saya lihat mukanya sedang merem-melek merasakan liang kewanitaannya yang sedang di 'makan' saya.

Kemudian saya lepas celana dan CD-ku, penisku yang sudah sangat tegang ingin sekali masuk pada lubang kemaluannya. Saya kini mengatur posisi di depan dia, saya berdiri di atas lututku. Saya arahkan penisku tepat di lubang memeknya. Saya tekan dan sedikit demi sedikit melesak masuk ke dalamnya. Liang kewanitaannya masih terasa sempit sehingga pergerakan naik-turunku awalnya lambat tetapi sekitar lima menit kemudian ku percepat pergerakanku. tidak tahu kenapa, saya merasa sangat bernafsu menyetubuhinya, makanya saya terus percepat gerakanku.
Penisku rasanya bertambah besar, ku lihat ketika penisku masuk ke liang senggamanya kelihatan kempot ke dalam tapi kalau saya sedang menarik penisku keluar, maka kulihat liang kewanitaannya seakan-akan mau ikut keluar. Sekitar lima belas menit kemudian saya merasa mau keluar makanya saya terusin genjotanku. Saya tahu dia sudah beberapa kali keluar, tangannya ada di pantatku, sedangkan tanganku ada pada pinggulnya. Saya tidak tahan lagi, maka saya keluar di dalam. Sperma yang saya keluarkan banyak sekali, terbukti ketika saya cabut penisku dari dalam liang senggamanya mengalir spermaku bercampur lendir birahinya.

Dia hanya tersenyum saja, waktu ku tanya gimana rasanya. Dia berbisik mau lagi. Saya bilang kalau mau lagi lebih baik pindah ke kamarku. Dia mau dan saya setubuhi beberapa kali lagi, malahan dia lebih agresif lagi, dia mau mengisap penisku. Sekitar empat jam kami bertempur habis-habisan. Saya rasanya sangat loyo, tapi dia masih saja segar. Kalau tidak takut suaminya balik, mungkin seharian saya harus setubuhi dia.


TAMAT



Suasana rumah waktu itu sangat sepi. Keluargaku pergi berlibur ke daerah. Di rumahku hanya ada Mbak Siska dan Lisa yang ikut orang tuaku dari daerah dan pembantuku sri. Wajah dan tubuh Mbak Siska dan Lisa seperti pemandangan yang indah, mereka sangat mmmm. Terkadang kawan atau kenalanku yang datang suka memuji wajah dan tubuh mereka. Beberapa temanku ingin berpacaran dengan mereka tapi tak dapat. Sering mereka dikira saudaraku. Pacarku kadang cemburu dengan mereka. Memang banyak kelebihan mereka dibanding pacarku.

Waktu itu aku pulang kuliah dan pulang ke rumah bersama pacarku. Ya tentu saja peluang ini kumanfaatkan. Kunikmati tubuh pacarku. Tapi ada yang kurang. Milikku tak ia ijinkan menikmati tubuhnya. Kunikmati tubuh polos pacarku berjam-jam. Tapi kurasa aku kecewa. Sebenarnya aku ingin merasakan bersengsama. Aku berharap pacarku dapat memberikannya. Tapi apa boleh buat, karena hari sudah sore kuantar dia pulang.

Setiba di rumah lagi, sekilas aku lihat Mbak Siska baru selesai mandi. Ia terkaget karena tak menyangka aku ada di rumah. Cepat-cepat dia masuk ke kamar. Birahiku terangsang melihat tubuhnya yang hanya tertutup handuk, rasanya kuingin menikmati tubuhnya. Kulihat pintu kamarnya tertutup. Karena hasratku menginginkannya. Maka kucoba masuk ke kamarnya. Ternyata pintunya tidak terkunci dan segera kumasuk. Melihat kehadiranku, Mbak Siska terkaget. Lalu ia bertanya padaku,"Ada apa Mas Geri, Mas Geri nyari apa?" dengan canggung karena hanya mengenakan handuk.Kulihat tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya cantik, dewasa dan lembut. Kulitnya bersih, putih mulus dan terlihat lembut. Lipatan dadanya sangat dalam. Kedua buah dadanya yang terhimpit handuk memang besar dan kelihatan benar-benar mulus, baru kulihat seperti ini. Pinggulnya membentuk dan lingkaran perutnya terlihat lebih kecil. Pahanya terlihat semua dan hampir selangkangannya terlihat tapi sayang tertutup handuk. Betisnya bagus.

Aku tak tahan melihat tubuh Mbak Siska. Perlahan kuhampiri. Lalu tanganku meraih handuk Mbak Siska dan sesaat handuknya kulepaskan. Mbak Siska benar-benar kaget. "Geri kamu kenapa?" jawab Mbak Siska dengan takut. Lalu kedua tangannya menutupi kemaluan dan dadanya. "Tubuh Mbak bagus," sahutku. Terlihat tadi keindahan tubuhnya yang polos. Kupeluk Mbak Siska. Mbak Siska berusaha menghindar. Tapi kurasakan cara menolak Mbak Siska halus. Tanpa pikir kudekap pantat Mbak Siska dengan tanganku. Dada Mbak Siska yang tertutup tangannya segera kuraih, kuremas dan kadang putingnya kupelintir-pelintir sedikit. Kurasakan padat dan kenyal di kedua tanganku. "Jangan Ger!" ucap Mbak Siska dengan lembut. Tak kuindahkan ucapannya. Segera bibirku mengecup bibirnya yang kulitnya terlihat tipis dan lembut. Kulahap bibir Mbak Siska. Terkadang Mbak Siska menolaknya tapi terkadang ia malah membalasnya.

Kugiring tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya kuingin merasakan bersetubuh. Kemudian salah satu tanganku melepaskan resleting dan mengeluarkan milikku. Segera kudorong tubuhnya dengan tubuhku ke tempat tidur. Akhirnya tubuhnya terbaring dan kutindih. Kutempelkan milikku di bibir vagina Mbak Siska. Sesaat Mbak Siska melepaskan bibirnya dari bibirku. "Jangan Ger!" ucapnya sesaat.Tanpa pikir lagi kulahap bibirnya lagi. Rasanya inilah kesempatanku merasakan kenikmatan tubuh wanita. Dan milikku sesaat mencoba menerobos masuk. Mbak Siska melepaskan bibirku lagi."Jangan Ger!" ucapnya mengingatkanku. Kutakperdulikan ucapan Mbak Siska. Sesaat kurasakan penisku berhasil masuk dan tertelan di liang vagina Mbak Siska. "Oouuhhh," ucap Mbak Siska sekeras-kerasnya. Akhirnya kurasakan kenikmatan tubuh wanita. Rasa liang vagina Mbak Siska tidak terlalu licin. Tapi kurasakan lembutnya liang vagina Mbak Siska. Kunikmati dan perlahan kukeluar masukkan. "Geri... kamu..." ucap Mbak Siska sesaat. Beberapa lama kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska licin dan membuat penisku agak basah sampai ke buluku. Akhirnya kukeluar-masukkan milikku di liang vagina Mbak Siska. Kulihat dagu dan dada Mbak Siska terangkat tinggi. Desahan demi desahan ia keluarkan. Terkadang kulihat wajah Mbak Siska menghadap ke kanan dan kiri.

Aku menyukai kejadian ini, sampai-sampai milikku memuncratkan cairan di dalam tubuh Mbak Siska. "Aahh... ooouuhhh..." sambil Mbak Siska ucapkan seiring semburanku. Rasanya benar-benar nikmat. Kuterdiam karena nikmat. Selang berapa saat kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska mendekap rapat milikku. Seakan-akan milikku digigit. Kurasakan kedua tangan Mbak Siska menarik punggungku dan segera memelukku rapat. Kurasakan badannya benar-benar menegang. Setelah itu ia terdiam lemas dan pasrah. Kurasakan aku masih pingin dan masih kuat. Tanpa basa-basi aku nikmati lagi liangnya. Matanya menatap mataku dengan lembut. Desahan pun ia keluarkan lagi. Dan akhirnya kusemburkan cairan lagi. Kusengaja di dalam, karena aku tahu Mbak Siska pernah nikah dan ia bercerai karena mandul.

Akhirnya kuselesai dan membungkus kembali milikku. Dan kududuk di pinggir tempat tidur. Kulihat Mbak Siska perlahan duduk. Sesaat dia terdiam. Kali ini kebanggaannya tidak ia tutupi dari mataku tampaknya ia sudah tidak canggung denganku. Rambut panjangnya yang agak menutupi dada ia uraikan dan rapikan ke belakang sehingga buah dadanya terlihat jelas. Tanganku memegang lagi salah satu buah dadanya. "Geri..." sahut Mbak Siska dengan raut wajah yang sudah agak memucat dari tadi. "Nggak apa-apa kan Mbak Siska?" ucapku sambil kuraba-raba dadanya dan kadang kuremas dan kumainkan putingnya. Kali ini Mbak Siska tidak menolak. Kukecup bibirnya dan kurasakan cara Mbak Lisa berciuman dan perlahan kupelajari dan akhirnya kumengerti.

Kami kali ini kami saling membalas bibir, lidah dan berebutan menghisap liur. Setelah berapa lama aku keluar dari kamar Mbak Siska. Beberapa saat kumenuju ke kamarku. Aku bersapa dengan Lisa. Lalu aku ajak ia mengobrol dan menonton di ruang TV. Kami duduk berdekatan. Terkadang kuperhatikan wajah Lisa dan memang ia manis. Kuperhatikan sosoknya dan kurasa tubuhnya bagus. Wajahnya sangat menarik. Lisa mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kuperhatikan satu persatu. lehernya putih bersih dan mulus memang merangsang. Pundaknya, lengannya, putih bersih dan mulus juga merangsang. Dadanya berbentuk juga berukuran. Pinggangnya yang ramping seakan enak untuk dirangkul. Pinggulnya yang berbentuk. Celana pendeknya membuat paha yang bersih dan putih mulus merangsang mata. Betisnya bagus. Tingginya lumayan.

Kudekati tubuhnya saat duduk bersamaan. Kurangkul, kupeluk. Tampaknya ia tidak menolak. Kubuai rambutnya. "Mas... aku jadi merinding," ucap Lisa dengan agak manja. "Kenapa...? nggak apa-apa kan?" sahutku. Kurasa kehangatan dirinya melebihi pacarku. Tampaknya aku terangsang. Salah satu tanganku yang membuai rambutnya kemudian mengelus pundaknya. Satu tanganku lagi menyentuh pahanya yang merangsang. Rupanya Lisa tak menolak. Perlahan kuelus dan meraba-raba pahanya. Kulitnya halus dan lembut. Perlahan tanganku menuju ke selangkangannya dan perlahan mengelus belahannya yang tertutup celana. Kulihat Lisa membiarkanku dan wajahnya agak menegang dan grogi. Bibir bawahnya terkadang ia gigit dengan lembut. Tanganku kemudian merangkul pundaknya. Pelan-pelan tanganku berjalan ke arah dadanya. Kurasakan ia hanya diam. Lalu perlahan kudekap buah dadanya yang cukup besar dan kuraba-raba.

"Mas..." ucap Lisa pelan. Kulihat bibirnya yang mengucap. Terlihat lembut dan merangsang. Rasanya bibirku bergerak otomatis menghampiri bibir Lisa. Lalu kukecup, rasanya memang lembut. Nikmat rasanya dan langsung kulahap bibirnya dengan nafsuku. Lisa diam tak bergerak. Dia terdiam pasrah melayaniku. Lalu kupeluk Lisa secara berhadapan. Kurasakan empuk buah dadanya di dadaku. Kuraba-raba punggungnya. Perlahan tanganku turun ke pinggang Lisa lalu menyusup di dalam kaosnya. Kurasakan kulit yang lembut dan halus. Kuraih tali BH Lisa, kubuka kaitannya. Akhirnya kuelus-elus dengan leluasa punggungnya karena tak terhalang tali BH-nya. Kurasakan Lisa mengikuti keinginanku. Tanganku bergerak ke arah ketiaknya. Terasa tubuhnya goyang dan perlahan kuhampiri dadanya. Kurasakan bulatan yang besar. Tanganku tak cukup mendekap buah dadanya. Masih ada bagian yang tersisa. Akhirnya aku dapat merasakan tubuh wanita yang selama ini hanya gambar khayalan.

Lisa terdiam seakan sedang melayaniku. Perlahan kedua tanganku turun ke pinggangnya lalu kuangkat kaos dan BH-nya. Kulihat kedua buah dadanya. Akhirnya mataku dapat melihat ukuran dada yang selama ini hanya dapat kulihat di gambar-gambar. Kutatap dengan kedua mataku dan tanganku meraba-raba dan menikmati bentuknya. Kulihat Lisa hanya diam dan tegang. Wajahnya agak memucat. Kulahap bibirnya dan kuremas dadanya. Kurasakan Lisa diam pasrah. Tanganku turun dari dadanya dan turun menusup celananya. Kurasakan "hutan" Lisa di dalam celana dalamnya. Kurasakan belahan dan kumainkan tonjolan Lisa. Secara bertahap kurasakan tanganku basah dan licin. Kemudian Lisa melepaskan kecupan bibirku. "Mas Geri, jangan yang itu Mas, aku masih..." ucap Lisa. Ternyata ucapan Lisa malah merangsangku. Perlahan tanganku menyusup di liang vagina Lisa. "Aaahhh... Mas Geri," rintih Lisa seiring jariku yang tertelan di liangnya.

Secara bertahap kukeluar-masukkan jariku di liangnya sampai cepat. Kulihat dagu Lisa terangkat. Matanya terpejam. Mulutnya perlahan terbuka dan kemudian bibir bawahnya ia gigit halus. Melihat ini wajahku menghampiri salah satu buah dadanya. Kubuka mulutku. Lalu kutelan dan kuhisap putingnya. Sesaat ia membusungkan dadanya. Serasa aku diberikan menu pilihan oleh Lisa. Kemudian kuberhenti dan kami berhenti sesaat.

Kurasakan birahiku menginginkan senggama. Kuajak Lisa ke kamarku. Kami duduk di pinggir tempat tidur. Kami berpelukan berciuman dan kedua tanganku menggerayangi tubuhnya. Sesaat satu persatu kain yang menyeliuti tubuh kami terlepas. Bibir, leher, telinga, pundak, punggung, buah dada, perut, pinggang, belahan selangkangannya, pahanya kunikmati dengan mulut dan tanganku. Sesaat posisinya terlentang. Kedua pahanya kubuat mengangkang lebar. Terlihat dengan jelas bagian demi bagian kenikmatan di belahan Lisa. Milikku kuhunuskan di bibir vagina Lisa. Perlahan kumasukkan milikku. Kurasakan kepala milikku agak tertelan. Sesaat Lisa menahan nafas merasakan milikku menyusup sesaat. Dagunya terangkat dan dadanya mengusung. Kudiamkan milikku tertahan. Kupeluk tubuhnya. Kuciumi dagunya yang terangkat kemudian seluruh lehernya. Kurasakan bibir vagina Lisa basah dan licin. Perlahan kumasukkan penisku ke dalam liang Lisa yang lebih mendekap ke rahim Mbak Siska. Kurasakan kelembutan liang Lisa. Sesaat kumerasakan kenikmatan wanita yang memiliki ciri khas masing-masing.

Kulihat mulut Lisa terbuka. Bibir dan mulutnya bergetar. Seakan mendesah tanpa suara. Matanya setengah terpejam. Wajahnya terkadang berpindah-pindah hadapan. Kurasakan ganjalan buah dada Lisa di saat aku memeluknya. Desahan demi desahan akhirnya terdengar jelas dari bibir Lisa. Kurasakan puncakku tiba. Kucabut milikku dan sesaat bagian perut sampai wajah Lisa terkena semburanku.

Sesaat kulihat Lisa menjilat cairanku yang menepel di bibirnya. Tampaknya ia menyukainya dan kemudian ia telan. Melihat ini kuhampiri wajah Lisa dan milikku kutempelkan ke bibirnya. Awalnya ia canggung. Kemudian ia buka mulutnya. Kemudian kumasukkan milikku ke mulutnya. Ia pun melahapnya juga. Sesaat kurasakan milikku di dalam mulut Lisa yang lembut. Kurasakan milik dan cairanku ditelan habis. Tampaknya aku masih sanggup menyetubuhinya. Tanpa pikir lagi kubuat posisi bersetubuh. Kutancapkan milikku lagi di liang vagina Lisa. Sesaat ia menegang lagi. Kunikmati lagi liang Lisa. Dan kurasakan liang Lisa, kemudian mendekap dan seakan menggigit milikku. Tangannya meremas pantatku dengan kuat. Ah, tanpa bisa terkontrol aku melepaskan cairanku di dalam tubuh Lisa. Aku terdiam sesaat. Kurasakan nikmat dan bingung. Semoga Lisa tidak hamil. Lalu kemudian kami mandi dan di sana kami juga sempat melakukannya lagi. Rasanya aku ketagihan.

Selesai mandi Mbak Siska kulihat di dalam kamar. Aku dan Lisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang polos.
"Kalian kenapa?" tanya Mbak Lisa kepada kami.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," sahutku.
"Kamu nggak kenapa-napa Lis?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," jawab Lisa.
Mbak Siska heran melihat keadaan kami. Kulihat Lisa mengambil pakaiannya kembali dan ia pakai. Kemudian Mbak Siska menghampiri Lisa dan menanyakan sesuatu. Saat itu aku sedang mengenakan pakaianku.

Setelah beberApa lama mereka selesai berbincang.
"Mas Geri aku keluar ya," sahut Lisa.
"Ya Lis," sahutku.
"Mbak Siska tadi bingung ngeliat rumah sepi, Mbak kira kalian pada kemana," tanya Mbak Siska kepadaku.
"Kami di sini lagi..." sahutku dengan nada bingung.
"Lisa nggak kenapa-napa kan Ger?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa Mbak, Cuma..." sahutku sambil aku mendekatinya.

Kedua tanganku memeluk pinggangnya. "Ada apa Ger?" tanya Mbak Siska sambil membuai rambutku.Kemudiam aku mengecup bibir Mbak Siska dan kami berciuman sesaat. Kemudian Mbak Siska melepaskan kecupanku. "Ger udah ya... Mbak mau keluar," sahut Mbak Siska.
Tampaknya aku ketagihan terhadap mereka. Kejadian ini terus berulang dan untung Lisa tidak hamil. Aku sempat berhubungan bersamaan dengan Mbak Siska dan Lisa. Beberapa lama kemudian aku juga melakukan hubungan seperti ini dengan beberapa teman perempuan. Akhirnya aku juga berhubungan dengan pacarku. Tapi ini bukan pertama buat dia. Hubungan kami hanya sesaat dan kami tidak cocok. Kurasakan ia lebih banyak kekurangan dibanding Mbak Siska dan Lisa. Akhirnya ia nikah dengan orang lain. Setelah aku berhasil akhirnya menikah dengan Lisa. Dan hubungan aku dengan Mbak Siska berkurang semenjak ia menikah dengan duda beranak. Lisa mengetahui hal ini dan tidak mempermasalahkannya. Akhirnya aku memiliki anak. Dan entah kehidupan selanjutnya.


TAMAT