Twitter

Archive for Oktober 2014



Kejadian ini terjadi pada saat seminar , aku dan Tina mendapat tugas dari sang boss untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar. Kami berdiskusi soal banyak hal mengenai materi seminar pagi tadi. Adapun kami seminar selama 5 hari di hotel bintang lima di kawasan Puncak. Kamar kami bersebelahan jadi memudahkan komunikasi antar rekan kerja. " Akhirnya usai ya seminarnya Gun " kata Tina selesai membahas soal bahan seminar tadi pagi. " kamu udah bikin laporannya kan?" tanyaku, " Belum, gimana kalo kita kerjakan di kamarku biar cepat kelar, kamu yang ketik aku yang mengkonsep " " boleh " jawabku. Akhirnya malam itu aku pindah kamar ke tempat Tina di sebelah. Ketika aku masuk ke kamar Tina, ia minta ijin untuk mandi dulu karena gerah seharian seminar. " aku mandi dulu ya Gun". "oke aku tunggu". 15 menit kemudian Tina selesai mandi dan berganti pakain yang lebih nyaman, daster. Setelah itu kami mengerjakan tugas sambil berdiskusi hingga larut malam aku kerjakan l aporan tersebut dan selesai sudah. " Kelar dech kerjaan gue hari ini " " iya sich besok kan kita sudah cek out ", Kami akhirnya mengalihkan pembicaraan ke soal yang ringan-ringan, hingga dingin menusuk ke tubuh kami." Gun nggak dingin?" ujar Tina sambil mencubit perutku " iya sih, abis kamu pakai daster " " Tapi sexy kan?" " Iya sih" " Gun, temani aku di sini ya, kita gak pernah omong lama banget selain kerjaan" kami bicara banyak banget hingga akhirnya habis bahan yang dibicarakan, " aku mo pipis ya Tin ?" Aku lalu ke kamar kecil untuk pipis. Tiba-tiba dari belakang Tina mengikuti aku, " Punya kamu lucu kaya helm tentara" aAku kaget " lho Tin?" " " Aku kagum dengan punya kamu" dan tiba2 Tina melabuhkan ciuman yang dasyat ke mulutku dan tak menghiraukan kalo kita teman, aku ciuki k\leher jenjangnya dan tangan kiriku meremas miss v nya yang mulai lembab dan tangan kananku meremas payudaranya.
               Perlahan dan pasti aku lucuti semua pakaianya hingga telanjang dia, aku kulum dikit pentil susunya,dan tangannya mencari batang penisku yang tersimpan di celana dalamku, dia berusaha membuka pakaiannku dan melucutinya. Dia terus jongkok untuk mengulum penisku, Sleep..slep suara penis masuk ke mulut mungilnya aku tahan supaya spermaku gak keluar, setelah tegang, penisku dikocok2 kayak memerah sapi. aku diminta untuk telantang, kuluman mautnya membuat penisku tegang, akhirnya gantian aku menstimulasi klitorisnya, dengan terengah-engah Tina merasakan nikmatnya bercinta,lubang kemaluannya mulai basah dan pertanda aku bisa penetrasi ke dalamya, Tina kuminta untuk doggy style aku masukkan dari belakang penisku, sleep...sleep, : uh.......uh,,,,,,,,yeah, terus GUn gask tahan" aku masukin dan terus memompa penis ke vaginanya, kemudian aku minta ganti posisi duduk dan dia di depanku, sambil kujilati payudaranya aku pompa penisku ke vaginanya, tubuh Tina mengelinjang menahan birahi, dan terasa melar rasanya vaginanya kemasukan penisku, hingga akhirnya dia melengguh, uhuhuhuh, dan keluarlah cairan vaginanya, tanda ia sudah klimaks, dan tak lama kemudian aku merasa akan keluar, langsung kucabut penisku dan di kulumnya penisku hingga tak tersisa isi laharnya, crotcrot,,,, menyemprot ke wajahnya dan kita akhirnya terlentang dengan telanjang karena telah sama2 mendaki puncak keikmatan malam itu. Akhirnya besoknya kita kembali dengan membawa rahasia kami berdua. Bereapa bulan kemudaian Tina pindah kerja ke tempat lain dan aku simpan memori itu selama hidup ini.



 Nama gue Denny Tyas, Gue seorang teknisi computer. Beberapa bulan yang lalu gue kenalan sama seorang cewek keturunan yang bernama Cindy Kosasih. Doi, seorang gadis belia yang sangat cantik, tinggi, berkulit putih mulus dan berambut panjang. Doi tinggal di Pondok Indah, gue ketemu dia dalam suatu party di rumah temen gue. Doi sebetulnya masih akan menjuti study-nya di Melbourne, pada saat itu ia sedang liburan, jadi ia pulang ke jakarta untuk beberapa bulan saja. Doi anak orang kaya, elo bayangin saja, dia sekolah di Melboune dan rumah di PI. Bonyok-nya seorang ekspotir klas menengah.
Gue sebetulnya agak minder juga kenalan sama doi, elo bayangin aje, mana ada sih orang tua yang udeh mati-matian sekolahkan anaknya di luar negri trus akhinya cuma jatuh di pelukan teknisi computer. Doi sebetulnya tidak sombong, doi mau ngertiin gue, dan sebulan yang lalu doi telah resmi jadi pacar gue. Hubungan gue dengan doi sebetulnya tidak diketahui oleh ortu si doi. Jadi backstreet aja nich ceritanya. Gue sebetulnya cinta mati sama doi, anaknya cantik, pandai gaul dan tak sombong.
Suatu malam dia telepon gue, dia minta di temani karena rumah-nya kosong (bonyok ke-luar kota), kebetulan malam itu gue juga lagi suntuk banget mikirin masa depan gue. Malam itu juga tanpa ba..bi..bu lagi langsung deh gue cabut ke rumah-nya di PI. Setelah gue sampai di rumah-nya, ternyata benar, tidak ada siapa-siapa lagi selain doi. Sebetulnya gue curiga juga, koq rumah segitu gedenya masa sich tak ada pembantu atau penjaga seorangpun. Ah sebodo banget pikir gue, yang penting nih malam gue bisa berduaan sama si doi. Malam itu doi kelihatan anggun banget, doi pakai terusan tipis dari sutra sehingga setiap lekuk tubuhnya yang indah dapat terlihat dengan jelas. Oh my god, apakah gue mimpi dan ketemu dengan bidadari ?.
Ternyata malam itu sungguh terjadi, dia nyata di depanku dan gue tertegun sejenak menyaksikan karya Tuhan yang sungguh Indah. Malam itu gue diajak untuk menginap di rumah-nya, tentu saja gue kagak nolak. Eh Malam itu juga dia ngajak tidur bareng, wah berani betul nih cewek, apa kagak takut gue makan ?.
Malam semakin larut dan udara dingin mencekam, dia sudah mau tidur dan akhirnya akupun menemani dia tidur. Wah, ternyata betul-betul gila nih cewek, ternyata dia tidak pakai apa-apa lagi selain terusan sutra warna perak itu, ketika ia naik ke tempat tidur, terlihat jelas putting susunya yang berwarna kemerahan. Ketika kita sudah ada di ranjang, dia bilang bahwa sebetulnya ia tak lama lagi akan kembali ke Aussie untuk meneruskan study-nya maka-nya malam ini ia ingin melepas rindu kepadaku. Setan juga nih anak, mana ada sih lelaki yang begitu bego menolak kalau ada seorang gadis cantik yang secara halus meminta untuk di cumbu, begitu juga gue, langsung saja gue kecup bibir-nya yang mungil lalu aku hirup air liur-nya, dia tampak kesulitan bernafas. Setelah aksi cium-ciuman, gue hisap leher-nya yang jenjang sampai menimbulkan cupang / tanda kemerahan dan ia pun sepertinya sangat menikmati cumbuan-ku. Waktu terus berputar, gue sekarang telah membuka terusan yang doi pakai dan bukit kembar alias toket yang sangat ranum telah tersaji dan siap di hisap, ketika putting susu doi gue hisap-hisap, doi merintih-rintih tanda kenikmatan. Putting doi gue hisap secara bergantian, kiri dan kanan, dan kadang-kadang gue remas-remas sampai ia menjerit. Setelah puas mainin toket doi, gue lalu mulai jilatin puser dan trus gue pengkangin kaki doi sehingga memek-nya merekah. Jembut doi jarang-jarang sehingga bibir memek doi kelihatan jelas masih indah seperti perawan. Sebetulnya gue baru kali ini lihat memek betulan, apalagi memek perawan. Begitu gue pengkangin kaki doi, memeknya merekah berwarna merah muda dan bagian dalam-nya kelihatan ada segumpal daging yang biasa di sebut itil. Gue nafsu banget, langsung saja gua jilatin memek-nya dan gua gigit itil-nya, doi menjerit sampil menekan kepala gue sehingga mulit gue jadi rapet banget sama memek doi. Tak lama setelah itu, doi kejang-kejang sambil merintih, trus ada cairan bening kental mengalir dari liang memek doi, baunya sedikit amis tapi tanpa pikir panjang langsung saja gue jilat dan telan, ternyata doi telah orgasme. Gue tak jijik karena gue tahu bahwa doi masih perawan, jadi belum pernah di tusuk oleh orang lain sehingga masih bersih.
Setelah doi orgasme, tampaknya dia lemas tak berdaya, trus langsung saja gue buka celana gue biar barang gue yang dari tadi sudah tegang bebas. Tanpa meminta ijin dari si doi, langsung gue tusukkan kontol gue ke memek-nya, wah susah juga, memeknya masih sempit, sehingga kontol gue harus gue tekan kuat-kuat sehingga bisa masuk secara perlahan-lahan. Ketika kontol gue mulai masuk, dia sepertinya senang sekali dan kelihatan seperti sangat menikmati permainan ini sehingga gue termotivasi lagi untuk memaju-mundurkan barang gue. Akh enak sekali, kontol gue seperti di pijat-pijat, gerakan maju-mudur yang gue lakukan main lama makin cepat sehingga doi terhentak-hentak diatas ranjang. Permainan itu gue lakukan sekitar lima belas menit, lalu doi bilang bahwa ia mau sampai, lalu doi memeluk tubuhku erat sekali trus teriak kecil sambil mengendurkan pelukan-nya, oh terasa banget, memknya banjir lagi. Selang waktu satu menit, ketika aku mau sampai, aku tekan kontolku dengan sangat kuat ke liang memeknya sehingga aku mengecret di dalam liang memek-nya.
Setelah sama-sama mencapai orgasme, lalu aku tarik kontolku dan aku sodorkan ke mulut doi, ternyata doi langsung menjilati batang kontolku. Oh nikmat, doi jilati sampai bersih. Setelah itu guepun balas jilati memek doi sampai bersih.
Tak terasa waktu telah menunjukkan jam delapan pagi ketika gue bangun dari tidur, di garasi kayaknya ada bunyi mesin mobil, eh ternyata ortu doi telah pulang, trus buru-buru gue pakai baju dan celana, gue lalu bangunkan si Cindy, dan doipun terjaga dan kaget bahwa bonyok-nya sudah pulang. Gue kayaknya sudah tertangkap basah, motor gue udah kelihatan sama ortu doi. Yach gue udah pasrah, mau diapain juga gue terima saja.
Eh sialan ternyata si Cindy malahan membela diri dan bilang bahwa dia diperkosa sama gue, kontan saja nyokap si doi pingsan lalu bokap-nya telepon polisi, yach trus gue di kandangin deh dan di hukum selama dua tahun potong masa tahanan. Sekarang gue hati-hati banget sama cewek, tak mau melakukan kesalahan lagi, nikmat cuma sesaat, menderita dua tahun.
Eh semua, elo pada jangan sampai pada apes seperti gue dah, HATI-HATI sama sosotan elo, ok !!.
Begitulah pengalaman pahit gue yang nyata, gue bagi-bagi sama elo semua biar kagak ada yang sial seperti gue. Persamaan nama dan tempat dalam pengalaman gue di atas, harap dianggap sebagai kebetulan belaka.
Dekatkan diri-mu pada Tuhan maka engkau akan selamat.
Buat Cindy, dendam gue selalu menyertai dikau.......



Aku bernama Iwan Budi........, aku adalah pemilik PT Prima ..... yang bergerak di bidang computer. sebenarnya aku telah memiliki seorang istri yang setia dan telah memiliki beberapa orang anak. Mungkin karena istri-ku terlalu pasif dalam melakukan hubungan badan, maka saya mulai tidak berselera kepadanya. Aku memiliki seorang sekretaris yang bernama Yanti, ia masih muda dan berparas cukup cantik.
Karena hubungan intim dengan istri kurang memuaskan, maka aku mulai mencari-cari wanita lain. Ke Amusment aku takut kena penyakit AIDS, karena itu aku mulai tertarik dengan si Yanti.
Hari sabtu, seperti biasanya para karyawan kerja cuma sampai jam satu siang. Tapi aku telah menyuruh agar si Yanti lembur saja karena banyak surat-surat yang belum terselesaikan. Pada saat itu waktu telah menunjukkan pukul tiga lebih seperempat, kami (aku dan yanti) hanya berduaan saja di kantor. Aku masih bimbang, mampukah diriku menyeleweng dengan sekertarisku.....?, aku takut ia menolak dan aku akan sangat malu. Oh...!!. Ternyata setan lebih kuat, aku mulai mengadakan aksi pertama, aku dekati dan pegang pundaknya, ia menatap wajahku dan pada saat itu kita beradu pandang dan ia tersipu malu. Aku tanya, "Apakah nanti malam kamu ada acara?", "Tidak ada" jawabnya datar. Aku semakin berani beraksi, aku pegang tengkuk-nya, ia diam saja, lalu aku bisikkan rayuan dan dia tertawa kecil. Aku sebenarnya masih muda dan cukup ganteng, maka dengan mudah sekretarisku itu jatuh dalam pangkuan-ku, dan selanjutnya dia pun sepertinya telah lama menaruh hati pada-ku, maka ketika aku ajak dia makan malam, ia setuju saja.
Malam minggu - malam yang panjang bagi kita semua. Malam itu setelah makan malam di restaurant chinese food, maka mobil panther warna merah-ku meluncur ke arah manggarai untuk mengantar si Yanti pulang. Tapi rupanya setan datang lagi, maka aku mengajak si Yanti ke Motel, ternyata dia juga nurut saja.
Setelah sampai di Motel, dia lalu mandi, dan aku telah memakai baju tidur. Sebagai orang yang baru pertama kali menyeleweng, maka aku gemetar ketika dia duduk di sisi tempat tidur, dia hanya dililit selembar handuk. lalu dia tersenyum kecut dan aku pun membalas senyuman-nya. Aku rangkul dia, aku ciumi seluruh bagian tubuh-nya, lalu aku jilati vagina-nya yang sepertinya masih suci karena bentuknya masih indah diselimuti bulu halus dan warna vagina-nya masih merah muda bergerajul lembut. Aku hisap vagina-nya dan ia pun mengerang menahan nikmat yang mungkin baru kali ini ia rasakan. Tak lama kemudian menyemburlah cairan cinta dari vagina-nya dan seluruh cairan itu aku sedot dan telan.... oh terasa manis dan nikmat, ia pun kelojotan menahan nikmat.
Setelah puas dengan acara jilatin vagina, maka akupun mulai beraksi membuka seluruh baju tidur-ku dan aku tarik dia ke tengah tempat tidur dan aku pun merayap diatas tubuhnya lalu mengepaskan posisi rudal-ku tepat di bibir vagina-nya. Setelah tepat menempel, maka aku ayunkan secara teratur maju dan mundur yang disertai bunyi deritan ranjang,  ia memberi respond dengan menghentak-hentakkan pantatnya dan menggolengkan kepalanya kekiri dan kekanan sehingga rambut-nya acak-acakan. Ketika kemaluan-ku sebetulnya agak sulit masuk ke vagina-nya karena vagina-nya masih perawan, jadi masih sempit. Setelah 20 menit melakukan aksi, dia menjerit pelan dan memeluk diriku erat sekali, rupanya ia orgasme lagi. Setelah ia orgasme maka lorong vagina-na tambah licin lagi dan lima menit kemudian, aku mulai merasakan adanya cairan yang memaksa keluar dari kemaluanku, aku tekan kuat-kuat rudal-ku sehingga membentur bagian yang paling dalam dari vagina wanita dan aku-pun mencapai orgasme sehingga liang vagina si yanti banjir dengan cairan mani-ku.
Setelah itu tubuhku terasa lemas tak berdaya, tapi hati ini sangat puas karena baru saja menikmati vagina perawan.
Malam makin larut, si Yanti telah terlelap,,,,,,,
Aku masih belum tidur, karena aku masih suka memandangi tubuh si Yanti yang putih mulus tanpa busana di sisi-ku. Aku termenung, melamun dan akhirnya aku teringat akan anak dan istriku yang telah aku bohongi bahwa ada rapat di luar kota, Lelaki macam apakah aku ini ?.
Aku manusia yang kotor seperti binatang, tapi aku tak kuasa menahan nafsu........ pikiran berdosa terus berkecamuk di otakku sampai akhirnya akupun terlelap juga.
Hai Pembaca yang budiman, elo jangan pada ngikuti si Iwan di atas yach.
Cerita ini diangkat dari cerita sebenarnya, ke-samaan nama dan tokoh dalam cerita ini mohon dianggap sebagai kebetulan belaka.
Jangan lah engkau terjatuh ke lembah nista karena setan akan tertawa.






Awalnya cerita ini sih, waktu bulan lalu. Di dekat rumah gue, ada cewek tetangga gue. Namanya Sita, doi anak kuliahan di G.Udah lama juga sih gue perhatiiin tetangga gue itu, tapi gue baru berhasil kenal ama dia waktu mobil gue diserempet ama mobil doi. Rumah gue ama rumah dia, memang satu kompleks. Paling cuman dipisahin 5 rumah. Doi orangnya manis bok! Gue suka banget ngelihatin mukanya kalo pas berpapasan di jalan.
Semenjak peristiwa diserempet mobil doi, gue jadi lumayan akrab ama doi. Kadang doi suka nebeng ama gue, kalo mau kuliah soalnya doi suka males bawa mobil sendiri. Dan kebetulan kampus gue ama doi, gak jauh-jauh amat. Di mobil, doi sering cerita tentang doi ama keluarganya atau temannya. Nah, kebetulan waktu itu di radio ada topik mengenai kebiasaan free sex dikalangan anak muda sekarang. Jadinya, gue ama doi dengar pembicaraan radio bareng-bareng. Dan akhirnya gue ama doi malah cerita-cerita masalah kehidupan asmara kita. Doi ngaku kalo sebenarnya doi udah pernah pacaran ama cowoknya yang dulu, dan itu udah setahun yang lalu. Doi putus ama cowoknya, dan kecewa banget ama itu cowok. Sebenarnya gue juga rada bingung ama doi, kenapa orang semanis doi, kok gak punya pacar. Gak taunya doi ngaku kalo doi trauma banget ama cowok. Dan setelah gue desak-desak, akhirnya doi ngaku kalo doi sekarang ini lesbong!!! Gue kaget juga waktu denger itu, dan gue nasehatin ama doi, kalo bisex itu lebih bagus daripada lesbong. Doi ngaku kalo temen lesbongnya itu temen kuliahnya sendiri, namanya Rina. Akhirnya doi janji, kalo dia bakal ngenalin temannya itu ama gue sepulang kuliah nanti!
Setelah pulang kuliah jam 2, gue akhirnya datang ke rumah Sita. Dan doi mempersilakan gue masuk ke rumahnya. Gak taunya, rumah doi kosong dan yang ada cuman pembantunya. Gue dikenalin ama Rina temannya Sita. Ternyata Rina itu juga manis lho! Walaupun masih kalah manis ama Sita, tapi bodinya itu!hmmmmmm, enak banget dilihatnya. Akhirnya gue bertiga ngobrol ngalor ngidul, sampai suatu saat gue kok merasa kunang-kunang dan ngantuk banget! Saking enggak kuatnya gue menahan pusing ama ngantuk, gue sampai ketiduran waktu di ajak ngobrol. Akhirnya Sita, nyuruh gue tidur di kamarnya. Dan gue oke-oke aja, soalnya gak kuat nahan ngantuk ama pusing!
Gue gak tau berapa lama gue ketiduran. Yang gue tau, setelah gue siuman. Gue ngerasa ada yang aneh banget sama diri gue! Pas gue bangun, gue kaget banget ngeliat gue udah naked! Dan gue liat Sita ama Rina juga udah topless, cuman pake celana pendek doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata kontol gue lagi dijilatin ama Sita, dan Rina lagi jilatin toketnya Sita!
Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol gue dijilatin ama Sita. Sita ama Rina juga rada kaget waktu ngeliat gue bangun, tapi doi berdua tetap cuek, malah Sita langsung masukin kontol gue ke mulutnya dan menghisap kontol gue, sementara Rina malah nyiumin gue, dari mulut ke mulut. Tentu aja gue bales ciuman Rina. Tangan gue juga mulai berani menggerayangi sekujur badan Rina, mulai dari toketnya yang sintal dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Udah puas ama kissing, terus gue disodorin toketnya Rina. Gue lahap aja toketnya bergantian kiri kanan, dan tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang tersembunyi di balik CD, dan celananya. Malah terus doi ngebuka celana ama CD nya, dan terlihatlah memeknya yang kelihatan banget terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir vaginanya, dan gue usap-usap sampai Rina berkelojotan ke kanan-kekiri. Terus doi malah nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Rina makin bergoyang, dan mendesah. Sementara itu, Sita masih menyepong kontol gue. gue lihat doi, memainkan ludahnya di kontol gue. Gila, gue kayak di awang-awang di saat Sita menyedot-nyedot kontol gue. Setelah lama doi nyepong gue, gue liat dia udah mulai bernafsu. Akhirnya doi duduk di selangkangan gue, dan mulai memasukkan kontol gue ke dalam vaginanya. Doi duduk menghadap ke gue, sambil turun naik. Gue liat wajahnya yang biasa manis dan lembut, kelihatan garang waktu bergoyang. Tangannya malah meremas-remas dada gue. Waktu awalnya, kelihatan banget doi rada susah menggerakkan badannya, soalnya vagina doi masih kering. Tapi lama-kelamaan, akhirnya gerakan turun naiknya Sita mulai lancar, malah doi sambil turun naik bergoyang-goyang memelintirkan kontol gue dengan vaginanya. Gue cuman bisa mendesah, soalnya lidah gue sendiri lagi bermain di vaginanya Rina. Setelah memainkan memeknya Rina selama 10 menit, kelihatan Rina mulai mengerang. Gue percepat gerakan lidah gue, dan jari tangan gue mulai membantu masuk ke dalam memeknya. Rina makin bergoyang, sambil mendesah keras. Dari vaginanya muncul cairan vagina yang rasanya agak amis. Tapi entah kenapa, gue suka banget ama aromanya dan gue malah tambah bersemangat memainkan vaginanya. Setelah 10 menit lagi, Rina mulai tampak bakalan orgasme yang pertamanya. Cairan yang keluar dari vaginanya makin mengalir deras, dan diakhiri dengan cairan orgasmenya.
Setelah Rina mencapai orgasme, doi turun dari tempat tidur, dan langsung masuk ke kamar mandi membersihkan vaginanya.
Sementara itu Sita mulai giat melancarkan gerakan turun naiknya. Bunyi yang dikeluarkan dari vaginanya karena gesekannya dengan kontol gue, lumayan keras karena diikuti ama bunyi selangkangannya yang beradu sama paha gue. Setelah berlangsung selama 15 menit, mulai kelihatan kalo doi bakal orgasme. Akhirnya gue mulai ngambil inisiatif buat merubah posisi. Gue bangun dan mulai melakukan sex dengan posisi dog style. Sita kelihatan senang banget melihat gue mulai mengambil insiatif, dan doi nurut aja waktu gue perintahin buat bangun dan berposisi dog. Gue percepat gerakan maju mundurnya kontol gue. Soalnya gue pengen banget melakukan orgasme bareng ama Sita. Setelah 4 menit, akhirnya gue orgasme bersamaan dengan orgasmenya Sita, tapi di luar vaginanya Sita soalnya gue takut kalo kenapa-napa di kemudian hari. Sita kelihatan lelah banget dan terkulai di tempat tidur, terus gue kissing aja doi.
Tapi gak lama kemudian, Rina keluar dari kamar mandi, dan doi minta buat difuck ama gue. Akhirnya gue gantian bersex ama Rina, soalnya gue takut doi kecewa. Dan akhirnya gue habisin sore itu sampai malam, di rumah Sita buat ngesex ama Sita dan Rina beberapa ronde lagi. Sampai-sampai gue kelelahan dan pulang kerumah setelah jam 8.
Dan setelah kejadian itu, akhirnya Sita mengakui kalo dia sebenarnya udah lama banget suka ama gue dan membayangkan buat ngesex ama gue bareng temen lesbongnya si Rina. Semenjak itu, akhirnya gue sering banget dateng kerumah Sita buat ngesex, bisa berdua ama Sita atau bertiga ditambah Rina. Hal itu udah berlangsung selama sebulan ini, dan gue menikmati banget hubungan ini. Malah kadang gue berdua atau bertiga suka sewa tempat di luar kota buat ngesex bareng. Asik banget bok!




Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.

Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang..., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya...?, Ah..., aku coba saja kali-kali saja masih buka.
Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok sepi..., "Mana yang jualan", batinku.
"Tante..., Tante..., Dik Krisna..., Dik Krisna", lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah kucoba panggil sekali lagi, "Permisi..., Tante Ita?".
"Oh ya..., tungguu", Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.
Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.
"Oh..., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich..., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?
"O..., Krisna sedang dibawa ama kakeknya..., katanya kangen ama cucu..., maaf ya Mas Otong Tante pake' pakaian kayak gini... baru habis mandi sich".
"Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk..., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Malam gini kok belum tutup Tante..?
"Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake' pakaian dulu?
"Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian", kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.
"Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita..., sini biar Tante ikut bantu juga". Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
"Trimakasih lho Mas Otong...?". "Sama-sama..."kataku."Tante saya lewat belakang saja".

Saat aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.
"Mas Otong..., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante", kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.
"Mas Otong..., burungnya bangun ya..?".
"Iya Tante..., ah jadi malu Saya..., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante...". "Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar...". "Eh ngomong ngomong Mas Otong kapan mo nikah...?". "Ah belum terpikir Tante...".
"Yah..., kalau mo' nikah harus siap lahir batin lho..., jangan kaya' mantan suami Tante..., tidak bertanggung jawab kepada keluarga..., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu..., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong... kebutuhan batin...". "Oh ya Tante..., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu...", tanyaku usil. "Yah..., Tante tahan-tahan saja..". Kasihan..., batinku..., andaikan..., andaikan..., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Ita..., ough..., pikiranku tambah usil.

Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan. "Mas Otong burungnya masih bangun ya...?". Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.
"Wow besar juga burungmu, Mas Otong..., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom...?". "Belum...!!", jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.
"Mas..., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja...?", belum sempat aku menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong. "Oh..., sampe' keluar gini Mas...?".
"Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku...?", kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita. "Wah..., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong...", kata tante sambil terus mengocok burungku.
Oughh..., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu. "Ough..., Tante..., nikmat Tante..., ough...", desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot..., ough..., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu..., ough..., sesshh.

Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.
"Mas Otong..., berbuatlah sesukamu..., cepet Mas..., cepet...!".
Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut..., woow..., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.
"Ough Mas..., ough...", desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
"Terus Mas..., Maas...", aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas. "Ayo Mas Otong..., Tante sudah tidak tahan..., mana burungmu Mas... burungmu sudah pengin ke sarangnya..., woww..., Mas Otong..., burung Mas Otong kalau bangun dongak ke atas ya...?". Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya. "Aughh...", teriak tante. "Kenapa Tante...?", tanyaku kaget. "Udahlah Mas..., teruskan..., teruskan...", aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali. "Tante..., sempit sekali Tante.?". "Tidak apa-apa Mas..., terus saja..., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian..., ntar juga nikmat...". Yah..., aku paksakan sedikit demi sedikit..., baru setengah dari burungku amblas..., Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari. "Augh..., Mas..., ouh..., Mas..., nikmat Mas..., terus Mas..., oughh..".
Begitu juga aku..., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa..., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.
"Oughh Mas..., ough..., luar biasa..., oughh..., Mas Otong...", katanya sambil merem-melek. "Kayaknya ini yang namanya orgasme..., ough...", burungku tetap di vagina Tante Ita. "Mas Otong sudah mau keluar ya..?". Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, "Ough..., Mas...", tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
 "Oughh Mas..., aku keluar lagi...", kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita. "Tante..., Aku keluarin dimana Tante...?, di dalam boleh nggak..?". "Terrsseerraah...",desah Tante Ita. Ough..., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku. "Mas Otong..., Mas Otong..., hebat Kamu Mas".
Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja. "Mas Otong..., kalau mau beli rokok lagi yah..., jam-jam begini saja ya..., nah kalau sudah tutup digedor saja..., tidak apa-apa..., malah kalau tidak digedor Tante jadi marah...", kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak. "Tante ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung", kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang..., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Ita, aku di panggil tante.
"Rokoknya sudah habis ya..., ntar malem beli lagi ya...?", katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.


TAMAT